Minggu, 7 April 2030
Hitungan Sawah
Petani mana pun tahu satu paradoks yang aneh. Untuk menyimpan benih, ia harus merelakannya hilang. Segenggam gabah bisa disimpan di lumbung bertahun-tahun, tetap utuh, tetap kering, tetap satu genggam. Tetapi selama ia disimpan, ia tidak menghasilkan apa-apa. Baru ketika benih itu dibenamkan ke tanah basah dan lenyap dari pandangan, ia mulai berbuah.
Yesus memakai gambar ini justru ketika beberapa orang Yunani ingin bertemu dengan-Nya. Permintaan itu sederhana, 'Tuan, kami ingin bertemu dengan Yesus.' Tetapi jawaban-Nya tidak sederhana. Ia berbicara tentang biji gandum yang harus jatuh ke tanah dan mati. Seolah Ia berkata, kalau kalian sungguh ingin melihat siapa Aku, lihatlah Aku ditanam.
Kita hidup di zaman yang mengajarkan sebaliknya. Peganglah nyawamu erat-erat. Jaga dirimu. Utamakan diri sendiri. Semua benar menurut hitungan lumbung. Tetapi Yesus berbicara menurut hitungan sawah. 'Barangsiapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya.' Yang digenggam terlalu erat justru mengering. Yang direlakan justru berbuah.
Bacaan kedua menolong kita mengerti bahwa ini bukan teori. Surat Ibrani mengatakan sesuatu yang mengejutkan tentang Yesus sendiri, 'Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang telah diderita-Nya.' Kata belajar itu mengharukan. Anak Allah pun menempuh jalan itu, bukan melompatinya. Ia tidak berpura-pura kuat. Dalam Getsemani Ia berdoa dengan ratap tangis. Ketaatan-Nya bukan sikap dingin, melainkan penyerahan yang mahal.
Lalu apa buah dari benih yang ditanam itu? Nabi Yeremia sudah menubuatkannya jauh-jauh hari. Sebuah perjanjian baru, bukan lagi ditulis di atas batu, melainkan di dalam hati. 'Aku akan menaruh Taurat-Ku dalam batin mereka.' Hukum yang dulu berdiri di luar kita, seperti rambu di pinggir jalan, kini hendak ditanam ke dalam, menjadi denyut yang tumbuh dari dalam diri.
Perhatikan ada satu benang merah. Batu menjadi hati. Benih menjadi buah. Derita menjadi ketaatan. Semuanya bergerak dari yang keras dan luar menuju yang hidup dan dalam. Dan semuanya menuntut satu hal yang sama, kesediaan untuk direlakan, untuk ditanam, untuk tidak lagi disimpan aman.
Pekan ini kita mendekati Pekan Suci. Kita akan melihat sebutir gandum yang paling agung dibenamkan ke dalam tanah. Untuk sesaat, seolah semua hilang. Tetapi justru dari situ tumbuh panen yang tak terhitung, sampai kepada kita yang hari ini duduk mendengarkan-Nya.
Adakah satu bagian dari hidup kita yang masih kita simpan terlalu erat di lumbung, takut merelakannya kepada Tuhan?
Tuhan, ajarilah aku hitungan sawah, bukan hitungan lumbung. Berilah aku keberanian untuk jatuh ke tanah-Mu dan percaya bahwa Engkau menumbuhkan. Amin.