‹ Semua renungan

Kamis, 4 April 2030

Menawar di Tengah

Di pasar tradisional, menawar itu seni. Penjual menyebut harga tinggi, pembeli menyebut harga rendah, dan keduanya bertemu di tengah. Ada tarik ulur, ada rayuan, kadang ada sedikit drama. Kita menyangka menawar hanya urusan dagang. Tetapi hari ini Musa menawar dengan Tuhan sendiri, dan taruhannya bukan harga cabai, melainkan nyawa satu bangsa.

Kemarin Yesus berbicara panjang tentang kesatuan-Nya dengan Bapa. Hari ini kita mundur jauh ke padang gurun, ke saat umat membuat anak lembu emas. Tuhan seakan berkata kepada Musa, 'Biarkanlah Aku,' seolah minta ruang untuk marah. Dan Musa, yang mestinya paling kecewa pada umatnya, justru berdiri menghadang.

Ia tidak membela dosa umat. Ia mengingatkan Tuhan akan janji-Nya sendiri kepada Abraham, Ishak, dan Yakub. Doa Musa bukan rayuan pasar, melainkan pegangan pada firman. Ia menawar dengan memakai kata-kata Tuhan sendiri. Dan terjadilah yang mencengangkan, 'Menyesallah Tuhan karena malapetaka yang dirancangkan-Nya.' Bukan berarti Tuhan berubah pikiran seperti manusia, melainkan bahwa doa satu orang sungguh diperhitungkan-Nya.

Di sini kita belajar arti berdoa untuk orang lain. Berdiri di tengah, di antara murka dan umat, memegang janji Tuhan dengan kedua tangan.

Adakah nama yang hari ini perlu kita bawa dan tawar di hadapan-Nya?

Tuhan, jadikan aku pendoa yang berani berdiri di tengah bagi orang-orang yang Kaupercayakan padaku. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →