‹ Semua renungan

Selasa, 2 April 2030

Rumah Belas Kasih

Kemarin seorang ayah berjalan pulang hanya dengan sebuah kalimat, dan anaknya sembuh. Hari ini kita berhenti di tepi sebuah kolam, di sisi orang yang sudah tiga puluh delapan tahun tidak beranjak.

Kolam itu bernama Betesda. Dalam bahasa Ibrani artinya rumah belas kasih. Nama yang indah untuk tempat yang sebenarnya kejam. Sebab di situ berlaku hukum siapa cepat dia dapat. Air bergoncang sebentar, dan hanya yang pertama nyemplung yang sembuh. Orang lumpuh itu, tentu saja, selalu kalah cepat. Tiga puluh delapan tahun ia menonton orang lain didahulukan.

'Maukah engkau sembuh?' Pertanyaan yang aneh. Bukankah sudah jelas ia ingin sembuh? Tetapi mungkin Yesus bertanya karena penantian yang terlalu lama bisa membuat orang berhenti berharap. Terbiasa dengan tikar. Terbiasa dengan tepi kolam.

Yesus tidak menurunkannya ke air. Ia tidak ikut aturan siapa cepat dia dapat. Ia hanya berkata, 'Bangunlah, angkatlah tilammu.' Belas kasih yang sejati ternyata tidak menunggu air bergoncang. Ia datang sendiri, memanggil, dan menyuruh berdiri. Nabi Yehezkiel melihat air mengalir keluar dari Bait Suci, menghidupkan segala yang dilewatinya. Air itu kini berdiri di hadapan si lumpuh, berwujud seorang manusia.

Adakah tepi kolam dalam hidup kita, tempat kita sudah terlalu lama menunggu dan hampir berhenti berharap?

Tuhan, datanglah ke tepi penantianku yang paling lama. Suruhlah aku bangkit. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →