Senin, 1 April 2030
Jalan Pulang dengan Tangan Kosong
Ada jarak yang paling jauh di dunia, yaitu jarak antara ranjang anak yang sakit dan kesembuhannya. Setiap orang tua yang pernah menunggui anaknya demam tinggi tahu rasanya. Waktu berjalan lambat, dan setiap napas dihitung.
Pegawai istana itu menempuh perjalanan jauh dari Kapernaum ke Kana, hanya untuk satu kalimat. Ia meminta Yesus datang. Tetapi Yesus tidak datang. Ia hanya berkata, 'Pergilah, anakmu hidup.' Dan yang luar biasa, orang itu percaya, lalu pulang. Ia berjalan membawa sebuah kalimat, bukan membawa Yesus.
Bayangkan langkah pulangnya. Sehari penuh perjalanan tanpa bukti apa pun di tangan, hanya bersandar pada satu janji. Baru keesokan harinya hamba-hambanya menyongsong dengan kabar, demam itu hilang tepat pada jam Yesus berbicara.
Iman sering justru begitu. Ia lahir di ruang antara janji dan bukti, di jalan pulang yang masih gelap. Nabi Yesaya menjanjikan langit dan bumi yang baru, tempat tangisan tidak lagi terdengar. Kita belum melihatnya. Kita masih menunggui ranjang-ranjang yang sakit. Tetapi kita berjalan pulang sambil memegang firman-Nya.
Adakah satu janji Tuhan yang hari ini berani kita percayai, sebelum kita melihat buktinya?
Tuhan, ajarilah aku berjalan pulang dengan tangan kosong tetapi hati penuh, hanya bersandar pada perkataan-Mu. Amin.