Minggu, 31 Maret 2030
Jeda Sukacita
Para pendaki mengenal pos peristirahatan. Di tengah tanjakan yang panjang, ada tanah datar untuk menarik napas, meneguk air, dan memandang puncak yang mulai kelihatan. Bukan akhir pendakian, tetapi cukup untuk menyegarkan kaki.
Minggu ini Gereja menyediakan pos semacam itu. Namanya Minggu Laetare, dari kata Latin laetare yang berarti bersukacitalah. Warna liturgi melunak dari ungu menjadi jambon. Di tengah tanjakan Prapaskah, Gereja seperti berkata: tariklah napas, pandanglah Paskah yang mulai kelihatan, dan bersukacitalah.
Apa alasan sukacitanya? Injil hari ini memuat kalimat yang barangkali paling sering dikutip di seluruh dunia: karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Minggu lalu kita melihat Yesus membalikkan meja-meja di Bait Allah, cinta yang menyala-nyala. Minggu ini, dalam percakapan malam dengan Nikodemus, cinta yang sama berbicara dengan lembut: Allah mengutus Anak-Nya bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya.
Bacaan pertama merangkum sejarah panjang yang kelam: umat berkali-kali berubah setia, mengolok-olok para utusan Allah, sampai Yerusalem runtuh dan mereka terbuang ke Babel tujuh puluh tahun lamanya. Tetapi bahkan di ujung kisah segelap itu, Allah menggerakkan hati Koresh, raja Persia yang tidak mengenal-Nya, untuk memulangkan mereka. Sejarah keselamatan penuh kejutan semacam itu: ketika pintu tampak habis, Allah membuka yang tidak terpikirkan.
Paulus menyimpulkannya dalam dua kata yang layak kita hafal di luar kepala: kasih karunia. Karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah. Keselamatan bukan upah yang kita kumpulkan seperti menabung, melainkan hadiah yang tinggal disambut. Inilah sumber sukacita Laetare: beban yang paling berat, yaitu menyelamatkan diri sendiri, ternyata tidak pernah dibebankan kepada kita.
Tinggal satu syaratnya, dan di sinilah ujian kita: datang kepada terang. Yohanes berkata, terang telah datang ke dalam dunia, tetapi manusia lebih menyukai kegelapan. Bukan karena terang itu jahat, melainkan karena kita malu perbuatan kita kelihatan. Sukacita Injil hanya bisa dialami oleh orang yang berani berdiri di bawah terang, apa adanya.
Separuh Prapaskah sudah kita jalani. Adakah bagian hidup yang masih kita sembunyikan dari terang-Nya?
Tuhan, terima kasih untuk kasih karunia yang tidak kubayar. Tariklah aku keluar dari gelapku, dan penuhilah sisa perjalanan ini dengan sukacita. Amin.