Sabtu, 30 Maret 2030
Kabut Pagi
Kabut pagi tampak meyakinkan. Ia menyelimuti seluruh lembah, tebal seperti tidak akan pergi. Tetapi tunggulah matahari naik sepenggalah. Dalam sekejap kabut itu lenyap tanpa bekas, seolah tidak pernah ada.
Dengan gambar itulah Allah menegur umat-Nya lewat Hosea: kasih setiamu seperti kabut pagi, seperti embun yang hilang pagi-pagi benar. Semangat rohani yang menggebu sepulang retret, tobat yang berapi-api saat tertimpa masalah, niat yang khusyuk di awal Prapaskah: semuanya bisa bernasib seperti kabut. Tampak tebal, cepat menguap. Yang dirindukan Allah bukan gebyar sesaat: Aku menyukai kasih setia, dan bukan korban sembelihan.
Injil menampilkan dua orang berdoa di Bait Allah. Orang Farisi berdiri dan sebenarnya tidak berdoa; ia melapor: aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh. Semua kata-katanya tentang aku. Pemungut cukai berdiri jauh-jauh, tidak berani menengadah, hanya memukul diri dan berkata: ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini. Doa yang pendek dan jujur. Dan justru ia yang pulang sebagai orang yang dibenarkan.
Rupanya yang tahan lama di hadapan Allah bukan yang paling gemerlap, melainkan yang paling jujur.
Doa kita akhir-akhir ini lebih mirip laporan prestasi, atau permohonan belas kasih?
Tuhan, kasihanilah aku orang berdosa ini, dan jadikanlah kasihku setia, bukan kabut pagi. Amin.