‹ Semua renungan

Kamis, 28 Maret 2030

Tengkuk yang Kaku

Tubuh punya cara memberi tahu bahwa ada yang salah. Tengkuk yang kaku, misalnya. Kepala jadi sulit menoleh, pandangan hanya lurus ke arah yang itu-itu saja. Orang Jawa punya kata untuk versi batinnya: ndableg. Sudah dibilangi berkali-kali, tetap saja tidak berubah.

Keluhan Allah lewat Yeremia hari ini persis tentang tengkuk itu: mereka menegarkan tengkuknya, berbuat lebih jahat daripada nenek moyang mereka. Padahal permintaan Allah sederhana sekali: dengarkanlah suara-Ku, maka Aku akan menjadi Allahmu dan kamu akan menjadi umat-Ku, supaya kamu berbahagia. Perhatikan ujung kalimatnya: supaya kamu berbahagia. Allah tidak sedang mencari hormat untuk diri-Nya. Ia sedang memperjuangkan kebahagiaan kita, dan kitalah yang menolak dengan tengkuk kaku.

Dalam Injil, penolakan itu tampil lebih halus dan karena itu lebih berbahaya. Yesus mengusir setan, orang bisu berbicara, mukjizat terjadi di depan mata. Sebagian orang bukannya percaya, malah menuduh: Ia mengusir setan dengan kuasa Beelzebul. Bukti sudah lebih dari cukup; yang kurang adalah kemauan. Tengkuk yang kaku selalu pandai menemukan alasan.

Prapaskah adalah pijat rohani untuk tengkuk semacam itu: pelan-pelan melenturkan kembali leher yang lama tidak menoleh kepada Tuhan.

Dalam hal apa kita sudah lama diingatkan Tuhan tetapi tetap tidak bergeming?

Tuhan, lenturkanlah tengkukku yang kaku, supaya aku bisa menoleh kepada-Mu. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →