Rabu, 27 Maret 2030
Resep Nenek
Ada rasa masakan yang tidak bisa ditiru rumah makan mana pun: rasa masakan nenek. Rahasianya bukan bumbu mahal, melainkan resep yang diwariskan turun-temurun, lengkap dengan takaran yang tidak boleh diubah seenaknya. Sekali satu bahan dianggap sepele dan dibuang, rasanya bukan itu lagi.
Musa hari ini berpesan dengan nada yang mirip: waspadalah, supaya jangan engkau melupakan hal-hal yang dilihat oleh matamu sendiri. Beritahukanlah kepada anak-anakmu dan kepada cucu cicitmu. Iman, seperti resep itu, hidup dari pewarisan. Ketetapan Tuhan bukan beban yang diturunkan, melainkan kebijaksanaan yang membuat bangsa-bangsa lain berdecak: alangkah dekatnya Allah mereka.
Yesus dalam Injil menegaskan sikap-Nya terhadap warisan itu: Aku datang bukan untuk meniadakan hukum Taurat, melainkan untuk menggenapinya. Bahkan satu iota, huruf terkecil, satu titik pun tidak akan ditiadakan. Yesus bukan pembongkar resep, melainkan juru masak agung yang membuat resep lama mencapai rasa yang dimaksudkan sejak awal.
Kita hidup di zaman yang gemar meringkas dan membuang apa saja yang dianggap kuno. Padahal ada takaran-takaran iman yang justru menjaga rasa: doa harian, ekaristi, pengakuan dosa, kejujuran dalam hal kecil.
Warisan iman apa yang mulai kita anggap sepele dan diam-diam kita buang?
Tuhan, jagalah aku setia pada yang kecil-kecil dalam iman, dan mampukan aku mewariskannya. Amin.