Senin, 25 Maret 2030
Kamar Kecil di Nazaret
Keputusan-keputusan besar dunia biasanya diambil di tempat megah: istana, gedung parlemen, ruang sidang yang dijaga ketat. Kamera berjajar, dokumen ditandatangani, dunia menonton. Begitulah cara manusia membayangkan sejarah dibuat.
Hari ini kita merayakan keputusan terbesar dalam sejarah keselamatan, dan tempat kejadiannya membuat kita tertegun: sebuah rumah sederhana di Nazaret, kampung yang tidak diperhitungkan di Galilea. Tidak ada saksi, tidak ada pengumuman. Hanya seorang gadis muda dan seorang utusan Allah. Di kamar kecil itulah malaikat Gabriel menyampaikan tawaran yang menentukan nasib semesta: engkau akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus.
Maria tidak menjawab dengan gegabah. Ia terkejut, bertanya-tanya di dalam hatinya, bahkan mengajukan keberatan yang masuk akal: bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami? Iman yang sejati rupanya boleh bertanya. Yang penting bukan tidak pernah bimbang, melainkan ke mana bimbang itu dibawa. Dan jawaban malaikat menutup segala hitungan manusia: sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil.
Lalu keluarlah kalimat itu, kalimat yang oleh banyak orang kudus disebut paling menentukan sesudah penciptaan: sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu. Surat kepada orang Ibrani memperdengarkan gemanya dari sisi sang Anak: sungguh, Aku datang untuk melakukan kehendak-Mu. Ya Maria bersambut dengan ya Yesus. Dari dua ya itulah keselamatan kita dianyam.
Bandingkanlah dengan Ahas dalam bacaan pertama. Raja itu ditawari tanda oleh Allah sendiri, bebas memilih dari dunia orang mati sampai langit tertinggi. Ia menolak dengan alasan yang terdengar saleh: aku tidak mau mencobai TUHAN. Padahal ia hanya tidak mau rencananya diganggu Allah. Maria sebaliknya: ia membiarkan seluruh rencananya dibongkar, masa depannya dipertaruhkan, demi kehendak yang belum sepenuhnya ia pahami.
Sembilan bulan dari sekarang kita merayakan Natal. Segala kemeriahan bulan Desember itu berawal dari kesediaan yang sunyi hari ini. Dan Allah, sampai sekarang, masih bekerja dengan cara yang sama: menunggu ya dari orang-orang biasa, di kamar-kamar kecil, tanpa penonton.
Tawaran apa yang sedang Allah sodorkan dalam hidup kita sekarang, dan jawaban apa yang masih kita tunda?
Tuhan, seperti Maria, aku ini hamba-Mu. Jadilah padaku menurut kehendak-Mu, sekalipun rencanaku harus berubah. Amin.