‹ Semua renungan

Minggu, 24 Maret 2030

Pasar di Rumah Doa

Pasar punya suaranya sendiri. Tawar-menawar, hitung-hitungan, untung-rugi. Tidak ada yang salah dengan semua itu, selama tempatnya memang pasar. Persoalan mulai muncul ketika suara pasar pindah ke tempat yang bukan tempatnya.

Injil Minggu ini memperlihatkan Yesus yang jarang kita bayangkan. Di pelataran Bait Suci Ia mendapati pedagang lembu, kambing domba, merpati, dan para penukar uang. Ia membuat cambuk dari tali, mengusir mereka semua, menghamburkan uang, membalikkan meja-meja. Ambil semuanya ini dari sini, kata-Nya, jangan kamu membuat rumah Bapa-Ku menjadi tempat berjualan. Ini bukan kemarahan yang lepas kendali. Ini cinta yang menyala: cinta untuk rumah-Mu menghanguskan Aku.

Yang diusir Yesus bukan sekadar pedagang, melainkan cara pikir pasar dalam beragama: sikap yang menjadikan Allah rekan dagang. Aku memberi persembahan, Engkau memberi kelancaran. Aku rajin berdoa, Engkau wajib mengabulkan. Agama menjadi transaksi, dan Allah diperlakukan seperti penjual yang bisa ditawar.

Sepuluh Firman dalam bacaan pertama sesungguhnya dibuka dengan nada yang sama sekali bukan nada dagang. Sebelum satu pun perintah diucapkan, Allah memperkenalkan diri: Akulah TUHAN Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan. Ia menolong dulu, baru meminta. Sepuluh Firman bukan syarat supaya dikasihi, melainkan jalan hidup orang yang sudah dikasihi. Urutannya tidak boleh dibalik.

Ketika orang Yahudi menuntut tanda, Yesus menjawab dengan teka-teki: rombak Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali. Mereka menghitung: empat puluh enam tahun dibangun, masakan tiga hari? Yohanes membuka kuncinya: yang dimaksudkan-Nya dengan Bait Allah ialah tubuh-Nya sendiri. Bait yang sejati bukan gedung, melainkan Kristus, dan bersama Dia, tubuh kita juga.

Di situlah pertanyaan Prapaskah ini menukik. Kalau tubuh dan hati kita adalah bait-Nya, meja-meja apa yang perlu dibalikkan di dalamnya? Barangkali meja hitung-hitungan jasa. Barangkali meja tawar-menawar dengan Tuhan. Paulus mengingatkan bahwa jalan Allah memang tidak mengikuti logika untung-rugi: kami memberitakan Kristus yang disalibkan, kebodohan bagi dunia, tetapi kekuatan Allah bagi mereka yang percaya.

Izinkanlah Ia masuk membersihkan pelataran hati kita pekan ini, meskipun ada meja yang jatuh berdebam.

Tuhan, hatiku rumah-Mu, bukan pasar. Balikkanlah meja-meja yang tidak pantas berdiri di dalamnya. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →