Sabtu, 23 Maret 2030
Ke Laut Dalam
Nelayan tahu arti tubir, palung laut yang paling dalam. Barang yang tenggelam di sana tidak akan ditemukan lagi. Tidak ada jaring yang sampai, tidak ada penyelam yang berani. Hilang berarti hilang selamanya.
Nabi Mikha memakai gambar itu untuk melukiskan pengampunan Allah: Ia akan menghapuskan kesalahan kita dan melemparkan segala dosa kita ke dalam tubir-tubir laut. Bukan disimpan di laci untuk diungkit lagi, bukan ditaruh di tempat dangkal yang bisa diambil sewaktu-waktu. Dilempar ke tubir. Mikha sampai bertanya takjub: siapakah Allah seperti Engkau yang mengampuni dosa?
Injil hari ini memberi wajah pada pertanyaan itu. Anak bungsu pulang dengan naskah pengakuan yang sudah dihafal: bapa, aku telah berdosa, jadikanlah aku salah seorang upahan. Tetapi ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, berlari, merangkul, dan mencium dia. Naskah itu bahkan tidak selesai diucapkan. Sang bapa sudah menyuruh mengambil jubah terbaik, cincin, dan sepatu. Dosa si bungsu seperti sudah dilempar ke tubir laut sebelum ia selesai minta maaf.
Yang masih menyimpan dosa itu justru si sulung, di halaman, dengan catatannya yang rapi.
Kita lebih mirip bapa yang melempar, atau sulung yang menyimpan?
Tuhan, dosaku telah Kaulempar ke laut dalam. Jangan biarkan aku memancinginya kembali. Amin.