Jumat, 22 Maret 2030
Jubah yang Ditanggalkan
Iri hati dalam keluarga jarang meledak seketika. Ia mengendap pelan-pelan: dari hadiah yang tidak sama, pujian yang berat sebelah, kasih yang terasa timpang. Lalu pada suatu hari, hal kecil saja cukup menjadi pemicunya.
Kisah Yusuf hari ini bermula dari sehelai jubah maha indah, tanda kasih Israel yang berlebih kepada anak masa tuanya. Saudara-saudaranya memandang jubah itu setiap hari, dan setiap hari benci itu bertambah tebal. Sampai akhirnya di Dotan mereka menanggalkan jubah itu, melempar Yusuf ke sumur kosong, lalu menjualnya dua puluh syikal perak kepada kafilah yang menuju Mesir.
Yesus dalam Injil menceritakan perumpamaan dengan pola yang sama: para penggarap kebun anggur menganiaya utusan demi utusan, dan akhirnya membunuh sang anak, ahli waris itu, supaya warisannya menjadi milik mereka. Gereja membaca kedua kisah ini berdampingan pada masa Prapaskah karena keduanya menunjuk kepada Yesus: seperti Yusuf, Ia dijual oleh saudara sendiri; seperti anak ahli waris, Ia dibuang ke luar dan dibunuh.
Tetapi ujung kisahnya ajaib: batu yang dibuang tukang bangunan telah menjadi batu penjuru. Yang dibuang manusia justru dipakai Allah untuk menyelamatkan.
Adakah iri yang sedang kita biarkan mengendap terhadap saudara sendiri?
Tuhan, bersihkanlah hatiku dari iri, sebelum ia menjadi sumur yang gelap. Amin.