Selasa, 19 Maret 2030
Diam yang Bekerja
Di setiap keluarga biasanya ada satu sosok yang tidak banyak bicara tetapi paling bisa diandalkan. Ia jarang tampil di foto, jarang bercerita tentang dirinya. Tetapi ketika genteng bocor, ketika anak sakit tengah malam, ketika keluarga goyah, dialah yang pertama bergerak. Orang seperti itu justru terasa besar dari diamnya.
Santo Yusuf, yang kita rayakan hari ini, adalah sosok semacam itu. Bukalah keempat Injil dan carilah satu saja kalimat yang keluar dari mulutnya. Tidak ada. Yusuf tidak meninggalkan sepatah kata pun. Yang ia tinggalkan hanyalah rangkaian tindakan: bangun dari tidur, mengambil Maria sebagai istri, membawa keluarganya mengungsi, memberi nama Yesus, bekerja sebagai tukang kayu.
Padahal batinnya tidak sepi. Injil hari ini membuka sedikit pergulatannya. Maria, tunangannya, ternyata mengandung sebelum mereka hidup bersama. Bayangkan gempa di hati seorang laki-laki yang tulus. Ia tidak mau mencemarkan nama Maria di muka umum, maka ia bermaksud menceraikannya diam-diam. Bahkan dalam kecamuk hatinya, pikirannya tetap melindungi orang lain. Lalu malaikat datang dalam mimpi: Yusuf, anak Daud, jangan takut mengambil Maria sebagai istrimu. Dan sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan. Sesederhana itu kalimatnya, sedalam itu ketaatannya.
Bacaan pertama mengingatkan janji Allah kepada Daud: keluarga dan kerajaanmu akan kokoh untuk selama-lamanya. Janji sebesar itu, anehnya, digenapi lewat rumah tangga sederhana di Nazaret, lewat kepatuhan seorang tukang kayu yang tidak tercatat satu pun ucapannya. Paulus dalam surat kepada jemaat Roma berbicara tentang Abraham yang berharap sekalipun tidak ada dasar untuk berharap. Iman Yusuf sekeluarga dengan iman itu: percaya pada rencana yang tidak seluruhnya ia pahami, lalu mengerjakan bagiannya hari demi hari.
Zaman kita gaduh oleh orang yang ingin terlihat. Prestasi diumumkan, kebaikan dipamerkan, suara paling keras dianggap paling benar. Yusuf menawarkan jalan lain: kesetiaan yang sunyi. Allah rupanya sangat mempercayai orang yang sanggup setia tanpa penonton. Kepada Yusuf yang diam itulah Ia menitipkan dua harta terbesar-Nya, Yesus dan Maria.
Di rumah dan pekerjaan kita, manakah bagian sunyi yang Allah titipkan untuk kita kerjakan dengan setia, tanpa perlu dilihat siapa-siapa?
Tuhan, seperti Santo Yusuf, jadikan aku orang yang sedikit bicara dan banyak setia. Titipkanlah kehendak-Mu kepadaku, dan beri aku hati yang taat mengerjakannya. Amin.