Senin, 18 Maret 2030
Sebuah Kursi
Di banyak rumah ada satu kursi yang tidak sembarang orang boleh duduki. Kursi bapak, orang biasa menyebutnya. Kursinya bisa saja tua dan sederhana, tetapi semua tahu: kursi itu menandakan siapa yang bertanggung jawab atas rumah ini.
Hari ini Gereja merayakan pesta yang namanya terdengar aneh: Takhta Santo Petrus. Yang dirayakan tentu bukan mebelnya, melainkan tugas yang dilambangkannya: pelayanan Petrus dan para penggantinya menjaga kesatuan Gereja. Kursi itu berdiri di atas percakapan di Kaisarea Filipi. Yesus bertanya: apa katamu, siapakah Aku ini? Simon menjawab: Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup. Dan Yesus membalas: engkau adalah Petrus, dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku.
Menarik bahwa Petrus sendiri, dalam suratnya, berbicara kepada para pemimpin dengan nada yang sangat rendah hati: gembalakanlah kawanan domba Allah, jangan dengan paksa, jangan mencari keuntungan, jangan memerintah, tetapi jadilah teladan. Orang yang diberi kursi tertinggi justru paling tahu bahwa kursi itu tempat melayani, bukan tempat bersandar.
Setiap kita pun diberi kursi masing-masing: di rumah, di tempat kerja, di lingkungan. Pertanyaannya sama sejak dahulu.
Kursi yang kita duduki sekarang, kita pakai untuk melayani atau untuk dilayani?
Tuhan, ajarilah aku menduduki tempatku sebagai pelayan, seperti Petrus. Amin.