Minggu, 17 Maret 2030
Dua Gunung
Orang yang pernah mendaki tahu: pemandangan terbaik selalu dibayar dengan napas yang paling berat. Jalan ke puncak tidak pernah datar. Tetapi orang yang sudah sampai di atas biasanya mengatakan hal yang sama: semuanya terbayar.
Bacaan-bacaan hari Minggu ini bercerita tentang dua gunung. Gunung yang pertama bernama Moria. Di sana Abraham mendaki dengan langkah terberat dalam hidupnya, membawa kayu, api, dan anaknya sendiri. Ishak, anak tunggal yang dinanti seumur hidup, diminta kembali oleh Allah. Kita hampir tidak sanggup membayangkan isi hati bapak tua itu. Tetapi Abraham berjalan terus, percaya dengan iman yang gelap, sampai suara dari langit menghentikan pisaunya: jangan bunuh anak itu, sekarang Kuketahui bahwa engkau takut akan Allah. Di puncak Moria, Abraham menemukan bahwa Allah tidak menghendaki kematian, melainkan penyerahan hati.
Gunung yang kedua adalah gunung Transfigurasi. Yesus membawa Petrus, Yakobus, dan Yohanes mendaki. Di puncak, pakaian-Nya menjadi putih berkilat-kilat, Musa dan Elia hadir, dan dari awan terdengar suara: inilah Anak yang Kukasihi, dengarkanlah Dia. Petrus ingin mendirikan tiga kemah dan tinggal di sana selamanya. Siapa yang tidak ingin? Tetapi kemuliaan itu hanya sekejap. Mereka harus turun kembali, dan Yesus mulai berbicara tentang bangkit dari antara orang mati. Artinya, tentang salib yang menunggu di gunung ketiga, Golgota.
Dua gunung itu saling menerangi. Di Moria, seorang bapak diminta menyerahkan anaknya, dan Allah menyediakan domba pengganti. Di jalan menuju Golgota, Allah sendiri yang menyerahkan Anak-Nya, dan kali ini tidak ada pengganti. Paulus merangkumnya dengan takjub dalam bacaan kedua: Ia yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimana mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita? Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?
Hidup beriman berjalan di antara dua gunung itu. Ada hari-hari Tabor, ketika doa terasa manis dan Tuhan terasa dekat. Ada hari-hari Moria, ketika yang paling kita cintai seperti diminta kembali dan langit membisu. Injil hari ini berpesan satu hal untuk keduanya: dengarkanlah Dia. Di puncak yang terang maupun di tanjakan yang gelap, suara itu sama.
Sedang berada di gunung yang mana kita sekarang? Dan masihkah kita mendengarkan Dia di sana?
Tuhan, di Tabor maupun di Moria, tolonglah aku tetap mendengarkan Anak-Mu. Amin.