Sabtu, 16 Maret 2030
Jemuran Tetangga
Matahari pagi tidak pernah memilih-milih. Ia mengeringkan jemuran orang yang rajin berdoa dan jemuran orang yang tidak pernah menginjak rumah ibadat. Ia menyinari atap orang baik dan atap orang yang kemarin menipu kita. Tidak ada satu rumah pun yang dilewati.
Kemarin Yesus meminta kita berdamai dengan saudara sebelum membawa persembahan. Hari ini Ia melangkah lebih jauh, sampai ke batas yang rasanya mustahil: kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Alasannya justru matahari tadi: Bapamu menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik, menurunkan hujan bagi orang yang benar dan yang tidak benar.
Yesus lalu bertanya dengan nada menggelitik: apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? Mengasihi orang yang baik kepada kita bukan prestasi. Itu naluri. Yang membedakan murid Kristus adalah kasih yang melampaui hitungan: memberi salam kepada yang tidak menyapa, mendoakan yang menyakiti.
Haruslah kamu sempurna seperti Bapamu, tutup Yesus. Sempurna di sini bukan berarti tanpa cacat, melainkan tanpa pilih kasih.
Siapa satu orang yang paling sulit kita doakan? Mulailah dari namanya hari ini.
Tuhan, jadikan kasihku seperti matahari-Mu, terbit untuk semua. Amin.