‹ Semua renungan

Rabu, 13 Maret 2030

Kota yang Berbalik

Obat yang paling manjur sering yang paling pahit rasanya. Jamu yang membuat wajah mengernyit justru yang menyembuhkan. Yang manis-manis biasanya hanya menyenangkan lidah.

Niniwe hari ini menerima obat pahit itu. Yunus masuk ke kota dengan khotbah terpendek dalam sejarah: empat puluh hari lagi Niniwe akan ditunggangbalikkan. Tidak ada mukjizat, tidak ada tanda ajaib, tidak ada rayuan. Tetapi hasilnya luar biasa: seluruh kota berpuasa, dari raja sampai rakyat, bahkan ternak ikut berkabung. Raja turun dari singgasana dan duduk di abu. Dan Allah, melihat mereka berbalik dari jalan yang jahat, tidak jadi mendatangkan malapetaka.

Yesus mengangkat kisah itu dengan nada sedih. Angkatan ini menghendaki suatu tanda, kata-Nya, padahal yang ada di sini lebih daripada Yunus. Orang Niniwe bertobat mendengar pengkhotbah yang setengah hati. Sedangkan orang di depan Yesus mendengar Anak Allah sendiri, dan masih menawar: mana buktinya dulu.

Kita gampang menertawakan mereka. Tetapi bukankah kita sering sama? Firman sudah kita dengar ratusan kali, khotbah sudah tidak terhitung, dan hidup jalan terus seperti biasa. Katanya menunggu tanda yang lebih besar.

Sebenarnya apa lagi yang kita tunggu untuk berbalik?

Tuhan, jangan biarkan aku kalah oleh orang Niniwe. Cukupkanlah firman-Mu hari ini untuk membalikkan aku. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →