Minggu, 10 Maret 2030
Busur yang Digantung
Hujan deras baru saja reda. Anak-anak berlarian keluar rumah sambil menunjuk langit: pelangi. Orang dewasa pun ikut menoleh. Ada sesuatu pada lengkung warna itu yang selalu membuat hati lega, seolah-olah langit sedang tersenyum setelah menangis.
Kitab Kejadian memberi arti yang jauh lebih dalam pada lengkung itu. Setelah air bah surut, Allah berkata kepada Nuh: busur-Ku Kutaruh di awan, supaya itu menjadi tanda perjanjian antara Aku dan bumi. Kata yang dipakai memang busur, senjata perang. Bayangkanlah: Allah menggantung senjata-Nya di langit, dengan lengkungnya menghadap ke atas, menjauhi bumi. Seperti prajurit yang menyarungkan pedang, Allah bersumpah tidak lagi memusnahkan. Pelangi adalah senjata yang dipensiunkan.
Petrus dalam bacaan kedua menautkan air bah itu dengan baptisan. Air yang dahulu menenggelamkan kini menyelamatkan. Kita semua sudah melewati air itu. Pertanyaannya: sesudah diselamatkan, mau ke mana?
Injil hari ini menjawab dengan kisah yang sangat ringkas, khas Markus. Roh memimpin Yesus ke padang gurun. Empat puluh hari Ia dicobai Iblis, berada di antara binatang liar, dan malaikat melayani Dia. Tidak ada rincian percakapan seperti pada Matius dan Lukas. Justru keringkasan itu berbicara: gurun adalah bagian dari jalan. Bahkan Anak Allah tidak melompatinya.
Empat puluh hari Prapaskah kita adalah gurun kecil itu. Di gurun tidak ada hiburan, tidak ada persediaan, tidak ada tempat bersembunyi dari diri sendiri. Justru di sana telinga menjadi jernih. Dan sesudah gurun, kalimat pertama Yesus berbunyi seperti terompet pagi: waktunya telah genap, Kerajaan Allah sudah dekat, bertobatlah dan percayalah kepada Injil.
Bertobat dan percaya. Dua kata kerja itu satu paket. Bertobat tanpa percaya menjadi muram, seperti orang yang hanya sibuk menyesali diri. Percaya tanpa bertobat menjadi murahan, seperti orang yang minta diampuni tanpa mau berubah.
Masa Prapaskah pada akhirnya berdiri di antara dua tanda: gurun yang kering dan pelangi yang berwarna. Kita berjalan melewati yang pertama sambil memandang yang kedua. Sebab perjanjian-Nya tidak pernah dicabut.
Gurun apa yang sedang kita jalani sekarang? Beranikah kita percaya bahwa di ujungnya Allah sudah menggantungkan busur-Nya?
Tuhan, temanilah aku di gurun empat puluh hari ini. Bila aku letih, ingatkanlah aku pada pelangi-Mu. Amin.