‹ Semua renungan

Jumat, 8 Maret 2030

Lapar yang Salah Alamat

Orang yang sedang lapar gampang tersinggung. Perut kosong, sumbu pendek. Yang berpuasa kadang justru menjadi galak: di rumah marah-marah, di jalan tidak mau mengalah. Puasanya jalan, buahnya hilang.

Keluhan semacam itu ternyata sudah setua nabi Yesaya. Umat protes kepada Allah: mengapa kami berpuasa dan Engkau tidak memperhatikannya? Jawaban Tuhan pedas: pada hari puasamu engkau masih mengurus urusanmu dan mendesak-desak semua buruhmu. Kamu berpuasa sambil berbantah dan berkelahi. Lalu Allah membeberkan puasa yang dikehendaki-Nya: membuka belenggu kelaliman, memerdekakan yang teraniaya, memecahkan roti bagi yang lapar, memberi tumpangan kepada yang tidak punya rumah.

Menarik sekali. Puasa yang benar ternyata bukan soal mengosongkan perut, melainkan soal mengosongkan diri: mengurangi milikku supaya ada ruang bagi orang lain. Perut yang lapar hanyalah alat peraga. Yang hendak dilatih adalah hati yang berbagi.

Dalam Injil Yesus menambahkan alasannya: sahabat mempelai tidak berdukacita selama mempelai bersama mereka. Puasa Kristen bukan murung, melainkan rindu. Kita mengosongkan diri karena merindukan Dia.

Puasa kita tahun ini mengenyangkan siapa?

Tuhan, jangan biarkan puasaku berhenti di perut. Antarkanlah ia sampai ke tangan yang berbagi. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →