Kamis, 7 Maret 2030
Persimpangan
Setiap pengendara pernah berhenti di persimpangan sambil ragu. Jalan yang satu lebar dan mulus. Jalan yang lain sempit, tetapi kata orang justru itu yang sampai ke tujuan. Peta boleh membantu, tetapi akhirnya tangan sendiri yang harus membelokkan kemudi. Tidak memilih pun sebenarnya memilih: berhenti selamanya di persimpangan.
Musa hari ini menempatkan Israel persis di titik itu: kepadamu kuperhadapkan kehidupan dan kematian, berkat dan kutuk. Lalu ia memohon, hampir seperti seorang bapak kepada anaknya: pilihlah kehidupan. Allah tidak pernah memaksa. Ia menghormati kita sampai sejauh itu, membiarkan tangan kita sendiri yang memilih.
Yesus dalam Injil memperjelas rute jalan kehidupan itu: setiap orang yang mau mengikut Aku harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari, dan mengikut Aku. Aneh kedengarannya. Jalan kehidupan kok lewat salib. Tetapi barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya akan kehilangan, dan yang kehilangan nyawanya karena Dia justru menyelamatkannya.
Prapaskah baru berjalan dua hari. Empat puluh hari ini adalah persimpangan yang dibentangkan tiap pagi: pilihan kecil antara enak dan benar, antara diri sendiri dan Tuhan.
Pilihan kecil apa yang hari ini menjadi persimpangan kita?
Tuhan, tuntunlah tanganku memilih jalan-Mu, sekalipun sempit. Amin.