‹ Semua renungan

Rabu, 6 Maret 2030

Abu di Dapur

Nenek-nenek kita dahulu tidak membuang abu dapur. Abu bekas kayu bakar dipakai menggosok periuk yang hitam, ditaburkan ke tanah supaya subur, disimpan untuk mencuci. Sisa pembakaran yang tampak tidak berharga itu ternyata membersihkan dan menyuburkan. Barangkali karena itu Gereja memilih abu, bukan emas, untuk membuka masa Prapaskah.

Hari ini dahi kita ditandai abu. Kalimat yang menyertainya tidak ada manis-manisnya: ingatlah, engkau debu dan akan kembali menjadi debu. Sekilas terdengar muram. Sebenarnya justru membebaskan. Sepanjang tahun kita dibiasakan tampil kuat, sukses, dan serba bisa. Abu mengembalikan kita pada ukuran yang benar: makhluk rapuh yang hidup dari belas kasih Allah. Dari situlah pertobatan bisa mulai.

Nabi Yoel menajamkan arahnya: koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu. Pada zaman itu orang mengoyakkan baju sebagai tanda duka. Tanda lahiriah gampang dibuat. Yang sukar adalah mengoyakkan hati: membongkar kebiasaan lama, mengakui dosa dengan jujur, berbalik sungguh-sungguh. Puasa yang hanya mengubah menu makan tanpa mengubah arah hati baru sampai di kulit.

Yesus dalam Injil melanjutkan dengan tiga latihan klasik Prapaskah: sedekah, doa, puasa. Ketiganya diberi satu aturan main yang sama: kerjakan tersembunyi. Jangan dicanangkan, jangan dipamerkan, jangan dipasang muram supaya orang tahu. Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya. Ukuran latihan rohani bukan berapa orang yang melihat, melainkan siapa yang dituju.

Dan Paulus memberi tenggat yang membuat kita tidak bisa menunda: sesungguhnya waktu ini adalah waktu perkenanan itu, hari ini adalah hari penyelamatan itu. Bukan besok, bukan tahun depan, bukan nanti kalau hidup sudah longgar. Hari ini.

Empat puluh hari terbentang di depan kita. Seperti abu dapur di tangan nenek, masa ini bisa menggosok yang hitam dan menyuburkan yang tandus, asal kita mau memakainya.

Apa satu hal tersembunyi yang mau kita kerjakan sepanjang Prapaskah ini, cukup diketahui Allah saja?

Tuhan, aku ini debu yang Kaukasihi. Koyakkanlah hatiku, bukan hanya pakaianku, dan baharuilah aku dalam empat puluh hari ini. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →