‹ Semua renungan

Minggu, 3 Maret 2030

Undangan dari Mempelai

Di kampung, tidak ada kabar yang menyebar lebih cepat daripada kabar orang mau mantu. Berbulan-bulan sebelumnya orang sudah membicarakannya. Tenda dipasang, sanak saudara berdatangan, dapur mengepul berhari-hari. Dan satu hal tidak pernah terjadi di pesta pernikahan: berpuasa. Siapa datang ke pesta sambil menolak makan, ia menghina tuan rumah.

Justru gambar itulah yang dipakai Yesus hari ini. Orang bertanya mengapa murid-murid Yohanes berpuasa sedangkan murid-murid-Nya tidak. Jawab Yesus sederhana: dapatkah sahabat mempelai berpuasa selama mempelai bersama mereka? Yesus menyebut diri-Nya mempelai. Kehadiran-Nya adalah pesta.

Bahasa pengantin ini bukan barang baru. Jauh sebelumnya, lewat nabi Hosea, Allah sudah berbicara dengan nada yang mengejutkan: engkau akan memanggil Aku Suamiku, dan tidak lagi memanggil Aku Baalku. Kata Baal berarti tuan, majikan, pemilik. Allah menolak dipanggil majikan. Ia ingin dipanggil suami. Majikan menuntut setoran. Suami memberi hati. Relasi kita dengan Allah, kata Hosea, bukan hubungan kerja, melainkan hubungan kasih.

Paulus meneruskan arah yang sama kepada jemaat Korintus. Perjanjian baru tidak ditulis dengan tinta pada loh batu, melainkan dengan Roh pada hati manusia. Hukum yang tertulis mematikan, Roh menghidupkan. Batu itu keras dan dingin. Hati itu hangat dan hidup.

Maka masuk akal ketika Yesus menutup dengan perumpamaan anggur: anggur baru harus disimpan dalam kantong kulit yang baru. Kantong tua sudah kaku, tidak bisa lagi mengembang. Anggur baru masih bekerja, masih beragi, butuh wadah yang lentur. Kasih Allah yang segar tidak bisa ditampung oleh hati yang telanjur mengeras menjadi rutinitas dan hitung-hitungan jasa.

Di sinilah kita perlu jujur bertanya. Bagaimana kita menjalani agama selama ini? Seperti pegawai yang takut pada majikan, ataukah seperti pengantin yang dicintai? Orang yang beragama karena takut akan terus menghitung: sudah cukupkah ibadahku, sudah lunaskah kewajibanku. Orang yang beragama karena dicintai tidak menghitung. Ia hanya ingin dekat.

Pekan ini, sebelum masa Prapaskah tiba, baiklah kita periksa wadah hati kita. Barangkali sudah kaku oleh kebiasaan. Mintalah kantong yang baru.

Tuhan, Engkau memanggilku bukan sebagai buruh, melainkan sebagai kekasih. Lembutkanlah hatiku yang kaku, supaya muat menampung anggur kasih-Mu yang selalu baru. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →