Kamis, 28 Februari 2030
Secangkir Air
Segelas air tampak sepele sampai kita kehausan di tengah terik. Pada saat itu, seteguk air dari tangan orang lain terasa seperti hadiah besar. Yang kecil dan murah ternyata bisa menjadi sangat berharga, tergantung kepada siapa ia diberikan.
Kemarin Yesus melarang murid-murid menghalangi orang yang berbuat baik dalam nama-Nya, sebab siapa yang tidak melawan kita, ia di pihak kita. Hari ini Ia melanjutkan dengan janji yang mengejutkan: barangsiapa memberi kamu minum secangkir air oleh karena kamu pengikut Kristus, ia tidak akan kehilangan upahnya. Di mata Allah, tidak ada kebaikan yang terlalu kecil untuk dicatat.
Bandingkan dengan bacaan pertama. Yakobus menegur orang kaya yang justru menahan upah para buruh yang menuai ladang mereka. Upah yang ditahan itu, katanya, berteriak, dan keluhan para penuai sampai ke telinga Tuhan. Rupanya Allah mendengar dua-duanya: secangkir air yang diberikan dan seupah yang ditahan. Yang satu tak pernah hilang, yang lain tak pernah luput.
Yesus menutup dengan gambar garam: hendaklah kamu selalu mempunyai garam dalam dirimu dan hidup berdamai satu sama lain. Sedikit garam, seperti secangkir air, sanggup mengubah rasa seluruh hidangan.
Hidup kekristenan jarang tersusun dari perbuatan besar. Ia lebih sering terbuat dari air, garam, dan upah yang tidak ditahan.
Secangkir air kecil apa yang bisa kita berikan hari ini kepada orang yang membutuhkannya?
Tuhan, jadikan aku murah memberi yang kecil dan jujur membayar yang menjadi hak orang lain. Biar hidupku menggarami sekitarku dengan damai. Amin.