Rabu, 27 Februari 2030
Kabut Pagi
Kabut pagi di lereng bukit terlihat kokoh, seolah bisa dipegang. Tetapi begitu matahari naik sedikit saja, ia lenyap tanpa sisa. Yang tadi memenuhi seluruh lembah tahu-tahu tidak ada. Kabut mengajarkan betapa tipis batas antara ada dan tiada.
Rasul Yakobus memakai gambar itu untuk menegur cara kita membuat rencana. Ada yang berkata, tulisnya menirukan: hari ini atau besok kami akan pergi ke kota anu, tinggal setahun, berdagang, dan mendapat untung. Terdengar mantap dan terencana. Tetapi, sambungnya, kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu seperti uap yang sebentar kelihatan lalu lenyap.
Ini bukan ajakan untuk berhenti merencanakan atau bermalas-malasan. Ini ajakan untuk merencanakan dengan rendah hati. Yakobus mengusulkan satu kalimat kecil yang mengubah segalanya: seharusnya kamu berkata, jika Tuhan menghendaki, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu. Bukan meniadakan usaha, melainkan meletakkannya di bawah kehendak Allah.
Orang yang lupa bahwa hidupnya kabut mudah menjadi sombong, seolah hari esok miliknya. Orang yang ingat kerapuhannya justru menjadi lebih tenang, sebab hidupnya ia titipkan pada Yang tidak lenyap.
Rencana apa yang sedang kita susun sekarang, dan sudahkah kita menyerahkannya dengan tulus pada kehendak Tuhan?
Tuhan, hidupku hanya kabut pagi di tangan-Mu. Ajarilah aku merencanakan dengan rendah hati, selalu berkata: jika Engkau menghendaki. Amin.