Minggu, 24 Februari 2030
Yang Tinggal di Ayakan
Di dapur kampung, menampi beras adalah pekerjaan sabar. Beras ditaruh di tampah, digoyang perlahan, dan pelan-pelan yang ringan naik ke atas: sekam, gabah hampa, kerikil kecil. Goyangan itu tidak menambah apa-apa. Ia hanya menyingkapkan apa yang sejak semula bercampur di dalam beras.
Yesus bin Sirakh dalam bacaan pertama memakai gambar serupa: kalau ayakan digoyang, sampahlah yang tinggal; demikian pula keburukan manusia tampak dalam bicaranya. Dan ia menambahkan nasihat yang tajam: jangan memuji seseorang sebelum ia bicara, sebab justru itulah batu ujian manusia. Kata-kata adalah ayakan. Ketika hidup mengguncang kita, apa yang naik ke permukaan dan keluar dari mulut kita menunjukkan apa yang sesungguhnya tersimpan di dalam.
Injil hari ini bergerak ke arah yang sama. Yesus berkata: setiap pohon dikenal pada buahnya; dari semak duri orang tidak memetik buah ara. Lalu Ia mendaratkannya ke soal mulut: yang diucapkan mulut meluap dari hati. Ucapan bukan sekadar suara. Ia adalah buah, dan buah selalu menunjuk pada pohonnya.
Maka aneh, kata Yesus, kalau kita begitu tajam melihat selumbar di mata saudara sambil buta pada balok di mata sendiri. Kita sibuk mengayak beras orang lain, sementara tampah kita sendiri penuh kerikil. Yang paling mengganggu kita pada orang lain sering justru cermin dari cacat yang diam-diam ada pada diri kita sendiri. Keluarkanlah dahulu balok dari matamu, kata-Nya, maka engkau akan melihat cukup jelas untuk menolong saudaramu.
Bacaan kedua menjaga supaya semua ini tidak berhenti pada rasa bersalah. Paulus bersorak: maut telah ditelan dalam kemenangan; hai maut, di manakah sengatmu? Karena Kristus sudah menang atas maut, kita tidak menampi hati kita dalam keputusasaan, melainkan dalam harapan. Selalu ada kekuatan untuk berubah, sebab kemenangan itu bukan hasil usaha kita sendiri.
Kesimpulan Paulus praktis sekali: berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan, sebab jerih payahmu tidak sia-sia. Kata-kata yang baik, dibiasakan sabar hari demi hari, akhirnya menjadi buah yang manis dari pohon yang sehat.
Pekan ini, sebelum sibuk mengayak kekurangan orang lain, beranikah kita menggoyang tampah hati sendiri dan jujur melihat apa yang tinggal di atasnya?
Tuhan, guncang dan ayaklah hatiku dengan lembut. Buang kerikil dan sekam di dalamnya, supaya dari mulutku hanya keluar buah yang menghidupkan. Amin.