Sabtu, 23 Februari 2030
Percik yang Membakar Hutan
Musim kemarau mengajarkan betapa kecilnya awal sebuah bencana. Satu puntung yang dibuang sembarangan, satu percik bara dari tungku, cukup untuk melahap hutan yang luas. Api besar hampir selalu bermula dari nyala yang mula-mula tampak sepele.
Rasul Yakobus memakai gambar itu untuk lidah. Betapa pun kecilnya api, katanya, ia dapat membakar hutan yang besar; demikian juga lidah, anggota tubuh yang kecil, tetapi sanggup menyalakan kebakaran. Ia menambahkan gambar lain: kekang kecil mengendalikan seekor kuda, kemudi kecil mengarahkan kapal besar. Yang kecil menentukan arah yang besar. Namun, akunya jujur, tidak seorang pun berkuasa menjinakkan lidah.
Yang paling menusuk adalah pengamatannya: dari mulut yang sama keluar berkat dan kutuk. Bibir yang tadi memuji Tuhan, sebentar kemudian mengumpat sesama yang diciptakan menurut rupa Allah. Kita mengenali diri kita di situ.
Injil hari ini menawarkan penawarnya. Di gunung yang tinggi, dari dalam awan terdengar suara: inilah Anak yang Kukasihi, dengarkanlah Dia. Bukan kebetulan perintah surga itu bukan berkatalah, melainkan dengarkanlah. Lidah yang liar mulai jinak ketika telinga lebih dulu belajar diam dan mendengarkan Kristus.
Sebelum kata keluar, selalu ada ruang sekejap untuk memilih: percik yang membakar, atau tetesan yang menyejukkan.
Kata seperti apa yang paling sering menyala dari mulut kita akhir-akhir ini, berkat atau kutuk?
Tuhan, taruhlah kekang pada lidahku. Ajarilah aku mendengarkan Engkau lebih dahulu, supaya yang keluar dari mulutku menyejukkan, bukan membakar. Amin.