‹ Semua renungan

Jumat, 22 Februari 2030

Batu yang Pernah Retak

Tukang bangunan yang berpengalaman tahu bahwa batu fondasi tidak harus mulus. Yang menahan sebuah rumah bukan batu yang paling licin, melainkan batu yang paling teguh dipasang di tempatnya. Bahkan batu yang pernah retak, asal diletakkan dengan benar, bisa menopang seluruh dinding.

Hari ini Gereja merayakan Takhta Santo Petrus. Injil membawa kita ke Kaisarea Filipi, saat Yesus bertanya: menurut kamu, siapakah Aku ini? Simon menjawab dengan pengakuan yang menjadi dasar iman kita: Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup. Dan Yesus berkata: engkau adalah Petrus, dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku.

Yang menakjubkan bukan bahwa Petrus sempurna, melainkan bahwa ia tidak. Kita tahu ke depannya ia akan menyangkal Yesus tiga kali, akan ditegur keras, akan tenggelam karena ragu. Batu karang pilihan Allah ini adalah batu yang pernah retak. Namun di atasnya, bukan di atas kehebatan manusia, Kristus membangun Gereja-Nya.

Di situ ada penghiburan besar. Kalau dasar Gereja adalah seorang yang pernah gagal lalu diampuni, maka tak ada kegagalan kita yang terlalu parah untuk dipakai Allah. Yang menentukan bukan bahwa kita tak pernah retak, melainkan bahwa kita membiarkan diri dipasang kembali oleh tangan-Nya.

Retak mana dalam diri kita yang selama ini kita kira membuat kita tak lagi berguna bagi Tuhan?

Tuhan, Engkau membangun di atas batu yang pernah retak. Ambillah kegagalanku dan pasanglah aku kembali di tempat-Mu. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →