Kamis, 21 Februari 2030
Cincin Emas dan Baju Lusuh
Kita menilai orang lebih cepat dari yang kita akui. Dalam sekejap, dari pakaian, sepatu, atau tas yang dibawa, otak sudah menaruh orang di rak tertentu: layak dihormati, atau boleh diabaikan. Penilaian itu terjadi bahkan sebelum sepatah kata terucap.
Rasul Yakobus menyorot kebiasaan itu dengan tajam. Bayangkan, katanya, dua orang masuk ke pertemuanmu. Yang satu memakai cincin emas dan pakaian indah, yang lain miskin berpakaian buruk. Lalu yang berpakaian indah dipersilakan duduk di tempat terhormat, sedang yang miskin disuruh berdiri di pojok atau duduk di lantai. Bukankah kamu, tegur Yakobus, telah menjadi hakim dengan pikiran yang jahat?
Ia lalu membalik cara pandang dunia: bukankah Allah justru memilih orang yang dianggap miskin oleh dunia ini untuk menjadi kaya dalam iman? Mata Allah tidak silau pada cincin emas. Ia membaca hati, bukan penampilan.
Menariknya, dalam Injil hari ini Petrus pun tergelincir karena menilai dari penampilan. Ketika Yesus berbicara tentang penderitaan dan salib, Petrus menegur Dia; ia hanya mau Mesias yang gagah dan menang, bukan yang menderita. Ia menilai Kristus dari kulit luar, dan ditegur keras: enyahlah Iblis.
Baik terhadap sesama maupun terhadap Tuhan, godaannya sama: berhenti di permukaan.
Siapa yang belakangan ini kita perlakukan berbeda hanya karena penampilannya, dan bagaimana Allah memandang orang itu?
Tuhan, Engkau memandang hati, bukan pakaian. Sembuhkan mataku yang suka menilai dari luar, supaya aku menghormati setiap orang sebagai milik-Mu. Amin.