Selasa, 19 Februari 2030
Terang Tanpa Bayangan
Perhatikan bayangan sepanjang hari. Pagi ia jatuh panjang ke barat, siang menyusut hampir hilang, sore memanjang ke timur. Bayangan tak pernah tetap, sebab sumber cahayanya bergerak terus. Selama terangnya berpindah, bayangannya ikut bergeser.
Kemarin kita mendengar Yesus menegur murid-murid yang mengkhawatirkan roti, padahal baru saja menyaksikan ribuan orang dikenyangkan. Mereka lupa. Ingatan iman mereka bergeser secepat bayangan sore. Rasul Yakobus, yang suratnya kita ikuti hari-hari ini, menyentuh persoalan yang sama dari akarnya.
Ia menulis kalimat yang indah: setiap pemberian yang baik datang dari atas, dari Bapa segala terang, pada-Nya tidak ada perubahan atau bayangan karena pertukaran. Allah bukan matahari yang berpindah. Ia terang yang tidak pernah menggeser posisi, sehingga kasih-Nya tidak pernah menimbulkan bayangan yang berubah-ubah. Yang berpindah-pindah selalu kita, bukan Dia.
Yakobus juga jujur soal asal dosa. Jangan salahkan Allah, katanya. Tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri; keinginan yang dibuahi melahirkan dosa, dan dosa yang matang melahirkan maut. Dosa tumbuh diam-diam, dari dalam.
Di tengah hati kita yang mudah bergeser, ada satu titik yang tetap: Bapa segala terang yang tidak berubah.
Hari ini, ketika hati kita gelisah berpindah-pindah, beranikah kita berpaut pada Terang yang tak pernah bergeser itu?
Tuhan, Bapa segala terang, Engkau tidak pernah berubah. Di tengah hatiku yang goyah, jadilah titik tetapku. Amin.