‹ Semua renungan

Minggu, 17 Februari 2030

Hujan untuk Semua

Cuaca tidak pandang bulu. Hujan yang sama membasahi sawah orang saleh dan sawah orang licik. Matahari yang sama menghangatkan rumah orang baik dan rumah orang jahat. Langit tidak pernah menahan sinarnya sampai penghuni bumi lulus ujian kelakuan lebih dulu. Ia mencurah begitu saja, kepada semua.

Justru gambar itu yang dipakai Yesus dalam Injil hari ini untuk melukiskan kasih Bapa: Ia menerbitkan matahari bagi orang jahat dan orang baik, dan menurunkan hujan bagi orang benar dan orang tidak benar. Dari sanalah Yesus menaikkan tuntutan-Nya yang paling sukar: kasihilah musuhmu, dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.

Sabda ini melawan naluri kita yang paling dalam. Naluri berkata: mata ganti mata, gigi ganti gigi. Yang menampar dibalas, yang menyakiti dijauhi, yang memusuhi didoakan celaka. Itu terasa adil. Tetapi Yesus menunjuk ukuran yang lebih tinggi daripada rasa adil kita: apabila kamu hanya mengasihi yang mengasihi kamu, apa lebihnya dari orang yang tidak mengenal Allah?

Bacaan pertama dari Kitab Imamat sudah menyiapkan jalan itu: janganlah menuntut balas, janganlah menaruh dendam, kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri. Alasannya bukan karena sesama selalu pantas, melainkan karena, kata Tuhan, Aku, TUHAN Allahmu, kudus. Kasih tanpa pilih itu lahir dari menyerupai Allah, bukan dari menghitung kelayakan orang.

Injil ditutup dengan kalimat yang sering salah dimengerti: haruslah kamu sempurna sama seperti Bapamu. Kata Yunani di situ, teleios, tidak berarti tanpa cacat sedikit pun, melainkan utuh, genap, sampai pada tujuannya. Menjadi sempurna berarti menjadi utuh dalam kasih: tidak setengah-setengah, tidak pilih-pilih, tidak hanya kepada yang menyenangkan kita.

Paulus menambahkan alasan yang mengejutkan dalam bacaan kedua: kamu adalah bait Allah, dan Roh Allah diam di dalam kamu. Kalau musuh kita pun bait yang dihuni Allah, membencinya berarti meremehkan rumah kediaman-Nya.

Kasih kepada musuh memang mustahil dengan kekuatan sendiri. Tidak ada orang yang bisa memaksa dirinya mencintai orang yang melukainya. Tetapi kasih itu mungkin sebagai buah dari kesadaran bahwa kita pun setiap hari disinari matahari yang tak kita layakkan.

Siapa satu orang yang paling sukar kita kasihi, yang pekan ini namanya bisa kita bawa dalam doa, bukan dalam dendam?

Tuhan, Engkau menyinari yang baik dan yang jahat tanpa membeda-bedakan. Luaskan hatiku yang sempit, supaya sanggup mengasihi bahkan yang memusuhiku. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →