‹ Semua renungan

Sabtu, 16 Februari 2030

Jalan Pintas

Manusia menyukai jalan pintas. Kalau ada gang tembus yang memangkas jarak, kita ambil, walau becek. Sebagian besar jalan pintas memang menolong. Tetapi ada urusan yang tidak punya jalan pintas, dan memaksakannya justru menyesatkan.

Bacaan pertama menampilkan seorang raja yang mencari jalan pintas dalam beragama. Yerobeam takut rakyatnya kembali setia kepada Yerusalem jika mereka terus ke sana beribadah. Maka ia membuat dua anak lembu emas dan berkata: sudah cukup lamanya kamu pergi ke Yerusalem; lihatlah, inilah allahmu. Ia mendekatkan sembahan, memasang di Betel dan di Dan, supaya orang tak perlu jauh-jauh. Praktis, hemat tenaga, dan menyesatkan.

Godaan Yerobeam adalah godaan sepanjang zaman: membuat Allah menjadi sepraktis mungkin, sesuai selera dan kenyamanan kita. Allah yang tidak menuntut perjalanan, tidak mengganggu, tinggal disembah sambil lewat. Tetapi ilah yang kita rancang agar mudah dijangkau biasanya bukan lagi Allah yang sejati, melainkan patung dari keinginan kita sendiri.

Dalam Injil, sebaliknya, orang banyak justru bersusah payah mengikuti Yesus sampai tiga hari di tempat sunyi, tanpa bekal, hingga lapar. Dan Yesus tidak menawari jalan pintas; Ia memberi makan mereka sungguh-sungguh dengan tangan-Nya.

Iman memang kadang menuntut jalan memutar yang tidak nyaman: mengampuni yang berat, setia saat lelah, jujur saat rugi.

Adakah kita sedang menukar Allah yang sejati dengan versi-Nya yang lebih praktis dan tidak menuntut?

Tuhan, jangan biarkan aku membentuk Engkau sesuai kenyamananku. Beri aku hati yang mau menempuh jalan-Mu, sekalipun tidak pintas. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →