Jumat, 15 Februari 2030
Efata
Ada pintu tua yang macet karena lama tak dibuka. Engselnya berkarat, kayunya memuai, dan sekuat apa pun didorong ia tetap rapat. Kadang butuh tangan lain, dari luar, yang tahu caranya, untuk membuat pintu itu akhirnya terbuka.
Kemarin kita mendengar iman perempuan asing yang gigih. Hari ini orang membawa kepada Yesus seorang yang tuli dan gagap, terkunci dari dunia suara dan kata. Yesus membawanya menyingkir, memasukkan jari ke telinganya, meraba lidahnya, menengadah ke langit, menarik napas, lalu berkata satu kata dalam bahasa Aram: Efata, artinya, terbukalah.
Kata itu sederhana tetapi memuat seluruh karya keselamatan. Sebab bukan hanya telinga di kepala yang bisa tuli. Ada telinga batin yang menutup diri terhadap Allah dan sesama. Ada lidah yang terikat, tak sanggup mengucap syukur, tak berani meminta maaf, tak mampu berkata jujur.
Kepada semua yang terkunci itu Yesus mengucapkan kata yang sama: terbukalah. Dan perhatikan, orang itu tidak membuka dirinya sendiri. Ia dibuka. Keselamatan datang sebagai tangan dari luar yang menyentuh yang macet di dalam.
Kita pun menyimpan pintu-pintu yang lama terkunci: hati yang tertutup pada seseorang, telinga yang enggan mendengar teguran, mulut yang beku pada kata maaf.
Kepada bagian mana dalam diri kita hari ini Yesus perlu mengucapkan Efata?
Tuhan, ucapkanlah Efata atas telinga dan lidahku. Buka yang lama kukunci, supaya aku mendengar Engkau dan berkata benar. Amin.