Selasa, 12 Februari 2030
Cangkir yang Mengkilap
Ada cangkir yang berkilau di bagian luar tetapi berlumut di dalam. Dari kejauhan ia tampak paling bersih di rak. Baru ketika hendak dipakai minum, ketahuan bahwa yang berkilat hanya permukaannya. Justru bagian yang menyentuh bibir dan masuk ke tubuh itulah yang kotor.
Orang Farisi dalam Injil hari ini sangat memperhatikan yang di luar. Mereka mempersoalkan murid-murid Yesus yang makan tanpa membasuh tangan menurut adat. Bukan soal kuman yang mereka risaukan, melainkan aturan warisan nenek moyang: mencuci tangan, mencuci cawan, mencuci kendi. Semuanya perkara permukaan.
Yesus menjawab dengan mengutip Yesaya: bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku. Ini teguran yang menusuk. Mungkin saja mulut sibuk berdoa sementara hati sedang menghitung dendam. Mungkin saja tangan rajin dibasuh sementara batin dibiarkan berlumut.
Hari-hari ini bacaan pertama mengisahkan Bait megah yang didirikan Salomo. Tetapi Salomo sendiri mengaku Allah tidak termuat oleh bangunan. Rupanya Allah selalu lebih peduli pada isi daripada wadah, pada hati daripada gedung.
Bahaya kita bukan menjadi orang jahat yang terang-terangan, melainkan menjadi cangkir yang mengkilap: rapi di luar, tak terurus di dalam.
Hari ini, beranikah kita memeriksa bukan penampilan ibadah kita, melainkan isi hati yang menyertainya?
Tuhan, jangan biarkan aku puas dengan yang tampak bersih. Basuhlah bagian dalam diriku, tempat yang tak terlihat orang. Amin.