Senin, 11 Februari 2030
Rumah untuk yang Tak Termuat
Orang yang baru pindah ke rumah pertama biasanya berdiri sejenak di ambang pintu, hampir tak percaya. Tempat sekecil ini akan menampung seluruh hidup: tidur, makan, tawa, doa. Ada haru yang aneh saat ruang terbatas dipercayakan memuat sesuatu yang jauh lebih besar dari ukurannya.
Haru semacam itu memenuhi bacaan pertama. Setelah bertahun-tahun, tabut perjanjian akhirnya diusung masuk ke Bait yang dibangun Salomo. Awan turun memenuhi rumah itu, sampai para imam tidak tahan berdiri, sebab kemuliaan TUHAN memenuhinya. Dan Salomo, di puncak sukacitanya, mengucapkan satu kalimat yang mengandung seluruh paradoks iman: aku telah mendirikan rumah kediaman bagi-Mu.
Ia sendiri tahu betapa mustahilnya kalimat itu. Bagaimana mungkin Allah yang langit pun tak sanggup memuat-Nya, mau menetap di dalam bangunan dari batu? Namun itulah yang dikehendaki Allah: menjadi dekat, bisa didatangi, bisa disapa di satu tempat.
Injil hari ini melanjutkan kerinduan yang sama dari sisi manusia. Di Genesaret orang berlari-lari mengusung yang sakit, memohon hanya diperbolehkan menjamah jumbai jubah Yesus. Allah yang tak termuat langit kini bisa disentuh ujung jubah-Nya, berjalan di antara pasar dan kampung.
Dan sejak Pembaptisan, kita tahu bait itu berpindah lagi: Roh Allah berkenan diam di dalam diri kita yang rapuh.
Kalau hati kita ini rumah yang dipilih Allah untuk didiami, sudahkah kita membersihkannya, atau kita biarkan penuh sesak oleh barang lain?
Tuhan, sungguh ajaib Engkau mau tinggal dalam diriku yang kecil ini. Bersihkanlah rumah hatiku, supaya layak Kaudiami. Amin.