Minggu, 10 Februari 2030
Yang Tersentuh dan Yang Terbuang
Di kampung, kabar tentang penyakit menular menyebar lebih cepat daripada penyakitnya sendiri. Rumah yang tertimpa mulai dijauhi. Piring dipisahkan, sapaan berkurang, orang lewat sambil menutup hidung. Yang paling menyakitkan dari sakit tertentu bukan demamnya, melainkan sepinya. Manusia bisa bertahan menanggung nyeri, tetapi sukar menanggung dijauhi.
Bacaan pertama dari Kitab Imamat memperlihatkan betapa keras aturan itu dahulu. Orang yang kena kusta harus berpakaian cabik, rambut terurai, menutup muka, dan berseru-seru: najis, najis. Ia wajib tinggal terasing, di luar perkemahan. Hukum menjaga kesehatan orang banyak, tetapi dengan ongkos yang mengerikan bagi si sakit: ia dihapus dari pergaulan, seperti sudah mati sebelum mati.
Ke dalam dunia berpagar itulah Yesus melangkah dalam Injil hari ini. Seorang kusta datang berlutut: kalau Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku. Perhatikan apa yang dilakukan Yesus sebelum berkata apa-apa. Ia mengulurkan tangan dan menjamah orang itu. Menyentuh. Padahal menyentuh orang kusta membuat diri sendiri dinyatakan najis menurut hukum. Yesus sengaja menyeberangi garis yang selama ini memenjarakan si sakit.
Lalu terjadi pertukaran yang menakjubkan. Orang kusta itu tahir dan bisa kembali ke tengah masyarakat. Sebaliknya Yesus, kata Injil, tidak dapat lagi terang-terangan masuk ke dalam kota; Ia tinggal di luar di tempat-tempat yang sepi. Ia mengambil alih tempat pengasingan si kusta. Yang terbuang masuk, yang menyembuhkan keluar.
Minggu lalu kita mendengar Yesus menyembuhkan mertua Simon lalu mundur ke tempat sunyi untuk berdoa. Hari ini kesunyian itu berubah wujud: bukan lagi tempat pilihan untuk berdoa, melainkan tempat buangan yang Ia terima demi orang yang disembuhkan-Nya.
Paulus dalam bacaan kedua merangkum arah hidup ini dalam satu kalimat: entah makan atau minum, lakukanlah semua untuk kemuliaan Allah, dan carilah kepentingan orang banyak supaya mereka selamat. Bukan diri sendiri lebih dulu, melainkan sesama.
Di sekitar kita selalu ada yang dijauhi: entah karena penyakit, karena masa lalu, karena status yang dianggap memalukan. Iman kristiani tidak mengajak kita menutup hidung dan menyingkir. Ia mengajak kita, seperti Yesus, mengulurkan tangan dan menyentuh.
Siapa satu orang yang selama ini kita jauhi, yang pekan ini bisa kita hampiri dan sapa lebih dulu?
Tuhan, Engkau menyentuh yang tak berani disentuh orang lain. Beri aku keberanian mengulurkan tangan kepada yang terbuang, dan menyeberangi garis yang memisahkan. Amin.