Sabtu, 9 Februari 2030
Kalau Boleh Minta Satu
Andai malam ini kita bermimpi didatangi dan ditawari satu permintaan yang pasti dikabulkan, apa yang akan kita sebut? Jujur saja, yang pertama melintas biasanya umur panjang, rezeki lancar, atau kabar buruk untuk orang yang kita benci. Pilihan itu wajar, tetapi juga menyingkapkan isi hati kita.
Salomo mengalami tawaran itu bukan dalam angan-angan. Di Gibeon, Allah menampakkan diri dalam mimpi: mintalah apa yang hendak Kuberikan kepadamu. Salomo masih muda, baru naik takhta, gentar memimpin umat yang tak terhitung. Ia tidak meminta umur panjang, kekayaan, atau nyawa musuhnya. Ia meminta hati yang faham menimbang perkara, yang dapat membedakan yang baik dan yang jahat.
Allah berkenan justru karena permintaan itu. Yang tidak diminta pun ditambahkan: kekayaan dan kemuliaan. Rupanya ketika kita meminta hal yang benar, hal-hal lain menemukan tempatnya sendiri.
Kemarin kita melihat Herodes menyalahgunakan kuasa demi gengsi, sampai membunuh seorang nabi. Hari ini Salomo memohon kuasa yang berbeda: kuasa untuk mendengar. Orang Jawa menyimpan nasihat tua, aja rumangsa bisa, nanging bisaa rumangsa, jangan merasa serba bisa, tetapi jadilah orang yang bisa merasa. Itulah hati yang diminta Salomo.
Kalau hari ini kita boleh meminta satu hal kepada Tuhan, beranikah kita meminta hati yang mendengar, bukan sekadar tangan yang menerima?
Tuhan, berilah aku hati yang faham menimbang, yang bisa merasa dan membedakan yang baik dari yang jahat. Amin.