Jumat, 8 Februari 2030
Sumpah di Depan Tamu
Ada perangkap halus dalam sebuah pesta: gengsi di depan tamu. Di hadapan orang banyak, ucapan mudah terlanjur besar. Sekali berjanji dengan suara lantang, orang merasa malu menariknya kembali, sekalipun ia tahu janji itu keliru.
Kemarin kita mendengar murid-murid diutus berdua-dua, memberitakan pertobatan dengan tangan kosong. Hari ini Injil beralih ke sebuah istana dan sebuah perjamuan. Herodes berulang tahun. Anak Herodias menari, menyukakan hati raja dan para tamu. Dalam suasana megah itu Herodes bersumpah gegabah: minta apa saja, sekalipun setengah kerajaanku.
Ketika yang diminta ternyata kepala Yohanes Pembaptis, hati Herodes sedih. Ia tahu Yohanes orang benar. Tetapi, kata Injil, karena sumpahnya dan karena tamu-tamunya, ia tidak mau menolak. Nyawa seorang nabi melayang demi menyelamatkan muka di depan meja perjamuan.
Betapa mahal sebuah gengsi dibayar. Herodes lebih takut ditertawakan tamunya daripada takut menumpahkan darah orang benar. Ia memilih tepuk tangan sesaat di atas suara hatinya sendiri.
Kita pun bisa terjebak begitu. Meneruskan hal yang salah hanya karena sudah terlanjur berkata di depan orang, malu mengaku keliru.
Adakah keputusan buruk yang masih kita pertahankan hari ini semata karena gengsi, takut kehilangan muka?
Tuhan, bebaskan aku dari perbudakan gengsi. Beri aku keberanian menarik kata yang salah, walau di depan banyak mata. Amin.