Selasa, 5 Februari 2030
Bangunlah, Nak
Membangunkan anak yang masih terlelap adalah pekerjaan penuh kasih. Ibu duduk di tepi ranjang, menepuk pelan, memanggil namanya dengan suara lembut: bangun, Nak, sudah pagi. Tidak ada bentakan. Hanya tangan hangat dan panggilan yang mengenal nama.
Kemarin kita melihat Yesus di seberang danau membebaskan orang Gerasa yang kerasukan legion, lalu menyuruhnya pulang menceritakan belas kasih Tuhan. Hari ini, di seberang yang lain, seorang bapak bernama Yairus tersungkur memohon bagi anaknya yang sekarat. Di tengah jalan datang kabar yang menghancurkan: anakmu sudah mati, tidak perlu lagi menyusahkan Guru.
Yesus tidak menghiraukan kabar itu. Jangan takut, percaya saja. Lalu di kamar itu Ia memegang tangan si anak dan berkata dalam bahasa ibunya: Talita kum, hai anak, bangunlah. Dan anak itu bangkit, berjalan. Yesus bahkan ingat hal kecil yang manusiawi: suruhlah beri dia makan.
Bagi Allah, kematian ternyata tak lebih dari tidur yang dari situ Ia sanggup membangunkan. Hari ini Gereja mengenang Agata, gadis muda yang mempertahankan imannya sampai mati. Dunia mengira nyawanya padam. Iman berkata: ia hanya dibaringkan sejenak, menunggu dipanggil bangun.
Adakah bagian dalam diri kita yang terasa sudah mati dan mustahil hidup lagi, yang hari ini perlu mendengar panggilan lembut itu?
Tuhan, pegang tanganku dan panggil namaku. Bangunkan aku dari segala yang telah mati dalam hidupku. Amin.