‹ Semua renungan

Senin, 4 Februari 2030

Biarkan Ia Mengutuk

Di jalan raya, satu klakson panjang bisa menyulut perang. Seseorang merasa disalip, wajahnya memerah, kaca diturunkan, dan keluarlah kata-kata yang tidak enak didengar. Rasanya hampir mustahil dimaki di depan umum lalu diam saja. Harga diri menuntut balasan setimpal.

Maka mengherankan melihat Daud dalam bacaan hari ini. Ia sedang lari dari Absalom, anaknya sendiri, kehilangan takhta, berjalan mendaki sambil menangis. Di titik terendah itu, keluarlah Simei melempari dia dengan batu dan mengutukinya: enyahlah, engkau penumpah darah. Abisai menawarkan jalan cepat: izinkan aku memenggal kepalanya.

Daud menolak. Biarkan ia mengutuk, katanya, sebab mungkin TUHAN yang menyuruhnya. Mungkin TUHAN akan memperhatikan kesengsaraanku dan membalas yang baik sebagai ganti kutuk hari ini.

Ada sesuatu yang matang di sana. Daud tidak sedang membenarkan Simei. Ia hanya berhenti menuntut haknya untuk membalas, dan menyerahkan perkaranya kepada Allah. Orang yang yakin bahwa Tuhan melihat tidak perlu buru-buru membela diri sendiri.

Kita sering keliru mengira bahwa diam berarti kalah. Padahal kadang diam adalah bentuk percaya yang paling berat: percaya bahwa keadilan tidak harus keluar dari tangan kita hari ini juga.

Adakah satu makian atau tuduhan yang masih kita simpan, menunggu saat membalas, yang hari ini bisa kita serahkan kepada Tuhan?

Tuhan, ketika aku dilukai kata-kata, tahanlah tanganku. Ajarilah aku menyerahkan pembelaan diriku kepada-Mu. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →