Minggu, 3 Februari 2030
Sebelum Fajar
Sopir angkutan pagi tahu betul rasanya bangun sebelum ayam. Hari masih hitam, jalan masih sepi, ketika kebanyakan orang masih meringkuk di bawah selimut. Ada satu jam yang aneh sebelum fajar: dunia belum menuntut apa-apa, dan orang bisa sejenak sendirian dengan dirinya.
Justru pada jam itulah Yesus bangun. Injil hari ini mencatat hari kerja yang padat. Minggu lalu kita mendengar Ia mengajar di rumah ibadat Kapernaum dengan kuasa, sampai kabar tentang Dia tersebar ke seluruh Galilea. Hari ini kabar itu berbuah: mertua Simon yang demam disembuhkan, dan menjelang malam seluruh penduduk kota berkerumun di depan pintu membawa yang sakit dan yang kerasukan. Yesus melayani mereka sampai larut.
Lalu satu ayat yang mudah terlewat: pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke tempat yang sunyi untuk berdoa. Padahal Ia baru saja bekerja keras. Padahal orang banyak masih menunggu. Ketika para murid menemukan-Nya dan berkata semua orang mencari Engkau, jawab-Nya justru: marilah kita pergi ke tempat lain.
Di sini ada rahasia yang gampang kita lupakan. Yesus tidak digerakkan oleh tuntutan orang banyak. Ia digerakkan oleh Bapa yang ditemui-Nya dalam keheningan. Doa sebelum fajar itulah yang menjaga-Nya agar tidak menjadi budak dari kesibukan-Nya sendiri.
Bandingkan dengan keluhan Ayub dalam bacaan pertama. Hidup terasa seperti kerja paksa, katanya, hari-hari seperti orang upahan yang menanti upahnya, malam merentang panjang tanpa harapan. Banyak dari kita mengenali suara itu. Bekerja tanpa henti, tetapi terasa hampa. Sibuk luar biasa, tetapi kering di dalam.
Bedanya barangkali sederhana. Ayub bekerja seolah sendirian di bawah langit yang bisu. Yesus bekerja dari dalam relasi dengan Bapa. Kesibukan yang sama bisa menjadi kerja paksa atau menjadi pelayanan, tergantung apakah ada tempat sunyi sebelum fajar itu.
Paulus pun mengenali dorongan ini. Celakalah aku, katanya, jika aku tidak memberitakan Injil. Ia melayani semua orang, menjadi lemah bagi yang lemah, tetapi bukan karena diburu tuntutan, melainkan karena satu keharusan yang lahir dari kasih.
Pekan ini, adakah kita berani mencuri satu jam sunyi sebelum dunia menuntut, supaya kesibukan kita tidak berubah menjadi kerja paksa?
Tuhan, sebelum fajar dan sebelum tuntutan datang, tariklah aku ke tempat sunyi bersama-Mu, supaya kerja hari ini menjadi pelayanan, bukan beban. Amin.