Sabtu, 2 Februari 2030
Api dan Sabun
Ada noda yang tidak mempan digosok biasa. Kerah baju yang menghitam, periuk yang berkerak, tangan tukang yang belepotan oli. Untuk itu orang dulu memakai sabun keras, kadang abu, kadang air panas. Kotoran yang membandel hanya menyerah pada yang lebih kuat darinya.
Nabi Maleakhi memakai dua gambar itu untuk melukiskan kedatangan Tuhan ke Bait-Nya: Ia seperti api tukang pemurni logam dan seperti sabun tukang penatu. Bukan gambar yang menghibur. Api dan sabun keras tidak menyentuh yang sudah bersih, melainkan yang kotor. Kedatangan Tuhan membersihkan, dan membersihkan selalu terasa sedikit sakit.
Maka aneh sekaligus indah bahwa hari ini Tuhan yang dahsyat itu masuk ke Bait Allah bukan dengan api, melainkan sebagai bayi mungil dalam gendongan. Simeon yang tua menyambut-Nya, dan yang keluar dari mulutnya bukan ketakutan, melainkan damai: sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera.
Rupanya pemurnian yang dijanjikan Maleakhi datang dengan wajah lembut. Api itu menyala sebagai kasih, sabun itu bekerja sebagai belas kasih.
Adakah satu noda lama dalam diri kita yang selama ini kita sembunyikan, dan hari ini berani kita serahkan untuk dibersihkan?
Tuhan, masuklah ke bait hatiku. Murnikan aku dengan api kasih-Mu, sekalipun perih, asal aku menjadi bersih. Amin.