‹ Semua renungan

Kamis, 31 Januari 2030

Siapakah Aku Ini

Kemarin kita mendengar Allah membalik niat Daud: bukan Daud yang membangun rumah bagi Tuhan, melainkan Tuhan yang membangun keturunan bagi Daud. Hari ini kita melihat bagaimana Daud menanggapinya. Ia tidak membusungkan dada. Ia masuk, duduk di hadapan Tuhan, dan berkata lirih: siapakah aku ini, ya Tuhan ALLAH, sehingga Engkau membawa aku sampai sedemikian ini?

Itu doa orang yang tahu diri. Semakin besar berkat yang Daud terima, semakin kecil ia merasa di hadapan Pemberinya. Kebesaran yang sehat selalu berujung pada kerendahan hati, bukan kesombongan. Orang yang sungguh sadar betapa banyak ia terima tidak akan sanggup menyombong.

Injil hari ini menaruh di samping doa itu sebuah gambar tentang pelita. Orang menyalakan pelita bukan untuk ditaruh di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian, supaya menerangi. Berkat yang Daud terima, dan yang kita terima, bukan untuk disimpan bagi diri sendiri, melainkan untuk menerangi orang lain. Yang tersembunyi pada akhirnya akan dinyatakan.

Yesus menambahkan satu hukum yang menggetarkan: ukuran yang kamu pakai untuk mengukur akan diukurkan kepadamu. Semakin murah hati kita membagi terang dan berkat, semakin melimpah yang akan kembali. Sebaliknya, yang menggenggam erat justru akan kehilangan.

Hari ini kita mengenang Santo Yohanes Bosko, yang menyalakan hidupnya habis-habisan bagi anak-anak muda terlantar. Ia tidak menaruh pelitanya di bawah gantang. Barangkali kita pun diajak berhenti sejenak seperti Daud, berkata siapakah aku ini sampai diberkati sebanyak ini, lalu membiarkan berkat itu menerangi orang di sekitar kita.

Tuhan, siapakah aku ini sehingga Kauberkati sedemikian rupa. Jangan biarkan aku menyimpan terang-Mu di bawah gantang, melainkan pakailah aku untuk menerangi sesama. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →