Rabu, 30 Januari 2030
Siapa Membangun untuk Siapa
Ada niat baik yang diam-diam terbalik. Kita ingin berbuat sesuatu untuk Tuhan, membangun ini, mengadakan itu, mempersembahkan yang megah. Niatnya tulus. Tetapi kadang tanpa sadar kita menempatkan diri sebagai pemberi, dan Tuhan sebagai penerima yang berutang budi.
Daud pun begitu. Ia merasa tidak pantas tinggal di istana kayu aras sementara tabut Allah masih di dalam kemah. Maka ia berniat membangun rumah bagi Tuhan. Niat yang mulia. Tetapi Allah menjawab dengan pembalikan yang mengejutkan: bukan engkau yang akan membangun rumah bagi-Ku, melainkan Aku yang akan membangun keturunan bagimu. Rupanya bukan Daud yang berjasa kepada Allah, melainkan Allah yang sejak semula berbuat baik kepada Daud.
Allah lalu mengingatkan, Akulah yang mengambil engkau dari padang, ketika menggiring kambing domba. Takhta, nama besar, keamanan, semuanya pemberian, bukan hasil tawar-menawar. Ketika kita mengira sedang berbuat besar bagi Tuhan, sering kali kita hanya mengembalikan sedikit dari apa yang sudah lebih dulu kita terima berlimpah.
Injil melengkapinya dengan perumpamaan penabur. Benih ditabur dengan murah hati ke segala jenis tanah. Yang menentukan hasil bukan kehebatan si benih, melainkan keadaan tanah yang menerimanya. Tugas kita bukan menyombongkan panen, melainkan menyiapkan hati agar menjadi tanah yang baik.
Barangkali hari ini niat kita perlu dibalik seperti niat Daud. Bukan pertama-tama bertanya apa yang bisa kupersembahkan untuk Tuhan, melainkan menyadari lebih dulu betapa banyak yang sudah Ia bangun dalam hidupku. Syukur yang benar selalu lahir dari kesadaran itu.
Tuhan, ampunilah aku yang mengira sedang berjasa bagi-Mu, padahal Engkaulah yang membangun hidupku sejak semula. Jadikanlah hatiku tanah yang baik bagi benih firman-Mu. Amin.