Minggu, 20 Januari 2030
Empat Puluh Hari Lagi
Minggu lalu, di hari raya Pembaptisan, kita mendengar Yesus mulai berkeliling dan memanggil murid-murid pertama-Nya di tepi danau. Hari ini Gereja mengulang panggilan itu, dan menaruh di sampingnya sebuah kisah lama tentang kota besar yang nyaris terbalik: Niniwe.
Yunus masuk ke kota itu sehari perjalanan, lalu berseru dengan pesan yang pendek dan tidak enak: empat puluh hari lagi, maka Niniwe akan ditunggangbalikkan. Tidak ada janji manis, tidak ada bujukan. Hanya peringatan keras dan sebuah tenggat: empat puluh hari.
Yang mengejutkan bukan khotbahnya, melainkan tanggapannya. Orang Niniwe percaya kepada Allah, mengumumkan puasa, dan berbalik dari tingkah lakunya yang jahat, dari orang dewasa sampai anak-anak. Dan ketika Allah melihat mereka berbalik, Ia pun mengurungkan malapetaka itu. Tenggat itu ternyata bukan vonis, melainkan kesempatan.
Di sinilah Injil menyambung dengan seruan pertama Yesus. Waktunya telah genap, Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil. Sama seperti Niniwe, kita diberi peringatan yang sekaligus adalah pintu. Bertobat bukan hukuman, melainkan tawaran untuk berbalik selagi masih ada waktu.
Perhatikan juga siapa yang lebih dulu menanggapi seruan Yesus. Bukan para ahli kitab, melainkan nelayan-nelayan sederhana yang segera meninggalkan jala dan mengikuti Dia. Sama seperti Niniwe yang tanpa banyak berdebat langsung berpuasa, orang-orang biasa ini menjawab panggilan tanpa menunda. Kadang justru kesederhanaan hati membuat orang lebih cepat berbalik daripada kepandaian yang penuh perhitungan.
Paulus menegaskan mendesaknya hal ini dengan bahasa yang tajam: waktu telah singkat, dan dunia seperti yang kita kenal sekarang akan berlalu. Ia tidak menyuruh kita membenci dunia, melainkan berhenti menggenggamnya seolah-olah abadi. Yang membeli seakan tidak memiliki, yang bergembira seakan tidak terikat. Sebab semua yang tampak kokoh sebenarnya sementara.
Kita gampang menunda pertobatan, seakan waktu tak pernah habis. Selalu ada besok, selalu ada nanti. Niniwe mengajarkan hal yang lebih waras: begitu mendengar peringatan, mereka langsung berbalik hari itu juga, tanpa tawar-menawar.
Kalau hari ini kita mendengar bahwa Kerajaan Allah sudah dekat, mungkin pertanyaannya bukan seberapa banyak waktu yang tersisa, melainkan apa yang menahan kita untuk berbalik sekarang. Nelayan-nelayan itu segera meninggalkan jala. Niniwe segera berbalik. Kita menunggu apa lagi?
Tuhan, terima kasih peringatan-Mu selalu disertai pintu untuk berbalik. Jangan biarkan aku menunda pertobatan sampai waktu habis. Gerakkanlah aku untuk berbalik kepada-Mu hari ini juga. Amin.