Kamis, 17 Januari 2030
Tabut yang Dijadikan Jimat
Kemarin kita mendengar Yesus tak lagi bisa masuk kota dengan leluasa karena mukjizat-Nya tersebar. Hari ini Kitab Suci memperlihatkan sisi sebaliknya, ketika orang mencoba memaksa kuasa Allah bekerja menurut kemauan mereka sendiri.
Orang Israel kalah perang melawan Filistin. Bukannya bertobat, mereka mengambil jalan pintas. Mari kita angkut tabut perjanjian dari Silo, kata mereka, supaya Tuhan datang menyelamatkan kita. Tabut itu benda kudus, tanda kehadiran Allah. Tetapi mereka memperlakukannya seperti jimat, benda ajaib yang bisa dipaksa mendatangkan kemenangan tanpa perlu hati yang berubah.
Hasilnya tragis. Mereka tetap kalah, bahkan tabut itu dirampas musuh. Allah tidak bisa disandera menjadi alat. Ia menyelamatkan orang yang berbalik kepada-Nya, bukan orang yang sekadar menggenggam benda suci sambil hidupnya berjalan seperti biasa.
Bandingkan dengan orang kusta dalam Injil. Ia datang berlutut dan berkata, kalau Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku. Tidak ada paksaan di situ, hanya kepercayaan yang berserah pada kehendak Tuhan. Dan justru dia yang disembuhkan.
Hari ini kita mengenang Santo Antonius, yang meninggalkan segala harta untuk mencari Allah sendiri, bukan berkat-Nya. Ia mengajar kita bahwa iman bukan menggenggam benda ajaib, melainkan menyerahkan hati. Adakah kita punya tabut yang kita perlakukan seperti jimat, sementara hidup kita tak sungguh berbalik kepada-Nya?
Tuhan, ampunilah aku bila aku memperlakukan Engkau seperti jimat untuk memenuhi maumu sendiri. Ajarilah aku berserah: kalau Engkau mau, jadilah kehendak-Mu. Amin.