‹ Semua renungan

Selasa, 15 Januari 2030

Doa yang Cuma Terlihat di Bibir

Kemarin kita mendengar Hana ditekan terus-menerus oleh madunya sampai menangis dan tak mau makan. Hari ini kita melihat ke mana ia membawa luka itu, yaitu ke rumah Tuhan di Silo. Dan doanya jenis yang khusus. Dengan hati pedih ia berdoa sambil menangis, bibirnya bergerak tetapi suaranya tidak kedengaran, sampai imam Eli menyangkanya mabuk.

Betapa sering doa yang paling sungguh justru yang paling sulit diucapkan. Ketika luka terlalu dalam, kata-kata sering macet. Yang keluar hanya bibir yang bergerak, air mata, dan hati yang mencurahkan isinya tanpa bunyi. Hana mengajarkan bahwa doa tidak diukur dari kefasihan, melainkan dari kejujuran hati di hadapan Allah.

Yang menghibur, doa tak bersuara itu tidak hilang. Tuhan ingat kepada Hana, dan pada waktunya lahirlah Samuel. Nama itu ia beri karena, katanya, aku telah memintanya dari pada TUHAN. Kepedihan yang dulu tak terkatakan berubah menjadi nama yang setiap hari mengingatkannya akan kesetiaan Allah.

Dalam Injil, kuasa yang sama menyatakan diri dengan cara lain. Di Kapernaum Yesus mengajar, dan orang takjub sebab Ia mengajar sebagai orang yang berkuasa. Bahkan roh jahat pun tunduk pada sepatah perintah-Nya. Kata-Nya berbobot karena keluar dari Allah sendiri.

Maka hari ini kita boleh lega. Doa kita tidak perlu indah atau lantang. Tuhan yang perintah-Nya ditaati roh jahat adalah Tuhan yang sama yang membaca bibir Hana yang bergetar tanpa suara. Ia mendengar yang tak terucap.

Tuhan, ketika lukaku terlalu dalam untuk kukatakan, Engkau tetap mendengar. Bacalah bibirku yang bergetar dan isi hatiku yang tak sanggup bersuara. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →