Senin, 14 Januari 2030
Meninggalkan Jala
Kemarin, di hari raya Pembaptisan, kita mendengar suara dari surga menyapa Yesus sebagai Anak yang dikasihi. Hari ini Yesus mulai bekerja. Langkah pertama-Nya bukan membangun rumah ibadat atau menyusun ajaran, melainkan berjalan menyusur danau dan memanggil orang biasa.
Simon, Andreas, Yakobus, Yohanes. Mereka bukan tokoh terpandang, hanya nelayan yang bau ikan dan tangannya kasar oleh tali jala. Kepada mereka Yesus berkata, mari, ikutlah Aku dan kamu akan Kujadikan penjala manusia. Dan yang menakjubkan, mereka segera meninggalkan jala dan mengikuti Dia.
Perhatikan kata segera itu. Jala adalah alat nafkah mereka, warisan keluarga, jaminan hidup. Meninggalkannya berarti melepas rasa aman. Namun ada sesuatu dalam panggilan Yesus yang membuat pegangan lama tiba-tiba terasa longgar. Bukan karena jala itu buruk, melainkan karena ada yang jauh lebih layak diikuti.
Kita masing-masing memegang jala sendiri. Ada rutinitas yang nyaman, gengsi yang dijaga, rencana yang sudah tertata rapi. Panggilan Tuhan hampir selalu meminta kita melonggarkan salah satu genggaman itu. Bukan untuk membuat kita miskin, melainkan untuk membebaskan tangan agar bisa memegang yang lebih besar.
Hari ini, jala apa yang paling erat kita pegang? Dan sekiranya Tuhan lewat dan memanggil, sanggupkah kita melepasnya, walau hanya sedikit demi sedikit?
Tuhan, Engkau memanggil orang biasa di tempat kerjanya. Longgarkanlah genggamanku pada rasa amanku sendiri, agar aku bebas mengikuti Engkau. Amin.