Jumat, 11 Januari 2030
Anak-Anak yang Pulang
Tidak ada yang mengalahkan riuh sebuah keluarga besar yang berkumpul. Anak-anak yang merantau pulang. Yang paling kecil digendong bergantian dari tangan ke tangan. Meja penuh, cerita bertumpuk, dan orang tua yang sudah sepuh hanya duduk memandang, matanya berkaca, hatinya penuh.
Yesaya melukis kerinduan yang persis seperti itu, tetapi kepada seluruh umat. Angkatlah mukamu dan lihatlah ke sekeliling, katanya. Mereka semua datang berhimpun kepadamu. Anak-anakmu laki-laki datang dari jauh, dan anak-anakmu perempuan digendong. Gambaran keselamatan bukanlah gedung megah atau kemenangan perang, melainkan keluarga yang tercerai-berai akhirnya berkumpul pulang.
Para majus adalah rombongan pertama dari anak-anak jauh itu. Mereka datang dari negeri asing, menempuh perjalanan panjang, membawa yang terbaik, hanya untuk berhimpun di sekitar Anak itu. Sejak hari itu, arus orang datang dari segala penjuru tidak pernah berhenti, dari abad ke abad, dari bangsa ke bangsa, sampai ke kampung kita.
Kita pun termasuk anak-anak yang datang dari jauh itu. Ada yang pernah tersesat lama, ada yang merasa terlalu kotor untuk pulang, ada yang sudah lupa jalan. Tetapi Yesaya menegaskan, tidak ada yang tertinggal. Yang berjalan dijemput, dan yang tidak bisa berjalan digendong.
Barangkali hari ini ada nama yang muncul di hati kita, seseorang yang sudah lama menjauh dari rumah Bapa. Kabar Yesaya ini juga untuk dia: pintu masih terbuka, dan meja masih menunggu.
Bapa, terima kasih Engkau menjemput anak-anak-Mu yang jauh. Gendonglah aku ketika aku tak sanggup berjalan pulang, dan bawalah pulang mereka yang kurindukan. Amin.