Kamis, 10 Januari 2030
Yang Besar Menunduk
Ada pemandangan yang selalu mengharukan di kampung: orang besar yang mau menunduk. Pejabat yang melepas sepatu dan duduk lesehan bersama warga. Orang kaya yang rela antre di loket yang sama. Tunduk itu tidak mengurangi kebesaran mereka, malah menambah hormat orang.
Para majus adalah orang-orang penting di negerinya. Ahli, terpandang, mampu membawa persembahan mahal. Yesaya bahkan bicara tentang raja-raja yang datang kepada cahaya. Tetapi apa yang mereka lakukan begitu sampai? Injil mencatatnya singkat: mereka sujud menyembah Dia. Orang-orang besar itu berlutut di depan seorang bayi miskin dalam rumah sederhana.
Bandingkan dengan Herodes. Ia juga mendengar kabar Raja yang lahir, tetapi ia tidak sanggup menunduk. Takhtanya terasa terancam. Orang yang tidak mampu menunduk biasanya bukan karena terlalu besar, melainkan karena terlalu takut kehilangan.
Menyembah memang selalu menuntut satu gerak yang tidak enak bagi kesombongan kita, yaitu menunduk. Mengakui ada yang lebih tinggi dari diri kita, lebih layak dari rencana kita, lebih berkuasa dari jabatan kita. Justru di titik itu manusia menemukan tempatnya yang benar.
Hari ini barangkali kita perlu memeriksa lutut batin kita. Masih bisakah ia ditekuk? Atau kita sudah terlalu sibuk menjaga takhta kecil kita sendiri, sampai lupa cara menyembah?
Tuhan, ajarilah aku menunduk. Lepaskan aku dari ketakutan kehilangan, agar aku sanggup berlutut dan menyembah Engkau yang sejati. Amin.