‹ Semua renungan

Rabu, 9 Januari 2030

Satu Rumah yang Menyala

Waktu listrik padam satu kampung, ada pemandangan yang selalu sama. Dari kejauhan, satu dua rumah tampak tetap terang oleh lampu teplok atau lilin. Rumah itu tidak menerangi seluruh kampung, tetapi cukup untuk membuat tetangga tahu ke mana harus datang meminjam korek atau menumpang duduk.

Yesaya melukis pemandangan serupa dalam skala yang jauh lebih besar. Kegelapan menutupi bumi dan kekelaman menutupi bangsa-bangsa, tetapi terang TUHAN terbit atasmu. Perhatikan, terang itu tidak dijanjikan menutupi seluruh bumi seketika. Ia terbit atas satu umat lebih dahulu, supaya dari situ bangsa-bangsa yang lain berduyun datang kepada terang itu.

Rupanya begitu cara Allah bekerja. Ia jarang menyalakan langit sekaligus. Ia lebih suka menyalakan satu rumah, satu keluarga, satu hati, lalu menjadikannya titik kumpul di tengah gelap. Para majus pun ditarik oleh satu titik cahaya kecil di langit, bukan oleh fajar yang menyeluruh.

Ini melegakan sekaligus menantang. Melegakan, karena kita tidak dituntut mengusir semua kegelapan dunia sendirian. Menantang, karena kita tetap dipanggil menjadi rumah yang menyala di lingkungan kita, betapa pun kecil nyalanya.

Di kampung, di kantor, di kelompok kita, kegelapan itu nyata. Tetapi mungkin Tuhan hanya meminta kita satu hal sederhana: jangan ikut padam. Biarkan rumah kita tetap menyala, agar ada yang tahu ke mana harus datang.

Tuhan, aku tidak sanggup menerangi seluruh dunia. Buatlah aku satu rumah yang tetap menyala di tengah gelap, tempat orang tahu di mana ada terang-Mu. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →